500 Juta Pengguna Facebook Adalah Para Narsis !!!

Syahdan dalam mitologi Yunani hiduplah seorang pemburu tampan luar biasa bernama Narkissos. Ketampanan telah membuatnya menjadi seorang yang sombong. Dia sering menolak cinta banyak gadis karena merasa mereka tak sepadan dengan dirinya.


Di antara para gadis yang kesengsempada Narkissos, tersebutlah seorang dewi bernama Ekho. Suatu hari secara diam-diam Ekho mengikuti Narkissos yang sedang berburu di dalam hutan. Di suatu tempat
Narkissos mendengar langkah kaki Ekho dan berteriak, “Siapa itu?”. Ekho menjawab dengan teriakan yang sama, “Siapa itu?”. Begitu seterusnya sampai akhirnya Ekho menampakkan diri dan memeluk sang pujaan hatinya. Narkissos terkaget-kaget dan berusaha melepaskan diri. Dia lalu mengusir Ekho dan meninggalkannya sendirian.


Karena merasa patah hati, Ekho memohon bantuan pada Nemessis, sang dewi pembalas dendam. Nemessis mengabulkan doa Ekho dengan mengutuk Narkissos supaya jatuh cinta kepada dirinya sendiri. Saat Narkissos melihat bayangan dirinya di sebuah kolam, tak henti-hentinya dia mengagumi sosok yang dipantulkan oleh air. Terus menerus seperti itu hingga ajal menjemputnya. Usai kematiannya, Narkissos lalu menjelma menjadi setangkai bunga, Bunga Narsis.


Kisah Narkissos inilah yang melatarbelakangi penggunaan kata “narsisisme” dalam ilmu psikologi modern. Definisi bebas dan singkat dari narsisismeadalah rasa cinta berlebihan terhadap diri sendiri. Manusia yang mengalaminya disebut “narsisis”, tapi orang Indonesia yang amat suka dengan singkatan biasa menyebutnya “narsis” saja. Dalam psikologi modern, mereka digolongkan sebagai pengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD).


NPD bukanlah penyakit. Gangguan kejiwaan ini terbentuk dalam diri seseorang oleh lingkungan terdekatnya sejak masih kecil. Orangtua yang terlalu memanjakan anak-anaknya, perfeksionis dan memaksakan nilai-nilai tertentu pada mereka, ditengarai sebagai penyebabnya. Faktor lainnya adalah pelecehan emosional, pujian berlebihan ketika si anak berkelakuan baik dan memaki-maki saat si anak melakukan kesalahan sepele.


Menurut bapak psikologi modern Sigmund Freud, sebetulnya manusia dilahirkan tanpa rasa ego, apalagi narsis. Ego berkembang dalam masa kanak-kanak ketika orangtua atau keluarga terdekatnya mengajarkan nilai-nilai standar yang mereka anut. Mereka berharap anaknya memiliki ideal ego, sebuah citra pribadi yang sempurna.


Para narsis mudah dikenali dari perilakunya. Umumnya mereka bersifat ego-sentris, merasa dirinya paling hebat, paling tampan atau paling cantik. Mereka sering memonopoli pembicaraan, anti kritik dan meyakini bahwa orang lain iri dengan kehebatan mereka. Mereka tampil perfeksionis di muka umum demi mendapatkan pujian, tapi merasa diri tak berharga saat menyendiri. Itulah sebabnya kenapa mereka sangat menyukai keramaian, baik di ruang-ruang fisik maupun virtual seperti Internet.
Maraknya situs-situs jejaring sosial atau pertemanan di Internet seperti Facebook bagaikan menghidupkan kembali “gen-gen” narsisme dalam diri manusia. Hasil penelitian yang dirilis dalam jurnal “Cyberpsychology, Behaviour and Social Networking” seperti dikutip The Daily Mail September lalu mengungkapkan bahwa menggunakan Facebook (FB) seperti memandang diri sendiri pada cermin. Mereka yang menghabiskan waktu memperbarui profilnya di Facebook kemungkinan besar adalah para narsis, kata para ilmuwan.
Menurut penelitian tersebut, Facebook menyediakan perangkat ideal bagi para narsis untuk memonitor penampilan mereka. Mereka suka menghitung berapa banyak “teman” yang mereka miliki meski hubungan pertemanan itu bersifat “dangkal”.


Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian itu mewawancarai 100 mahasiswa yang terdiri dari 50 pria dan 50 wanita berusia 18-25 tahun tentang kebiasan “ngeFBe” mereka. Mereka diuji dengan serangkaian tes psikologi untuk mengetahui tingkat narsisme. Ternyata mereka yang lebih sering memeriksa laman Facebook-nya memiliki skor narsisme lebih tinggi ketimbang yang lain. Penelitian juga menemukan bahwa facebooker yang “kurang pede” ternyata lebih sering mengunjungi FB dibanding rekan-rekannya.
Ilmuwan Soraya Mehdizadeh mengatakan bahwa banyak orang mungkin tidakhappy dengan temuan mereka. “Saya pikir orang akan bersifat defensif tentang hal ini, misalnya (dengan mengatakan)’Saya menggunakan Facebook bukan karena itu’, sebab itulah label (narsisme) yang tak ingin ditempelkan pada Anda.”


Memang sih, kenarsisan yang dibingkai pertemanan sering kita jumpai di FB. Ada facebooker yang di setiap kesempatan meng-update statusnya atau menggonta-ganti avatar (foto profil). Status yang ditulisnya seringkali adalah hal-hal sepele yang “nggak penting-penting banget” buat orang lain.
“Ritual” ini dilakukannya kapan dan dimana saja. Pokoknya, segala hal yang dia rasa perlu diberitakan, langsung ditumpahkan di status FB-nya. Entah karena nalurinya sebagai reporter atau hanya karena takut info yang didapatnya keduluan oleh yang lain. Cuma satu yang ada di pikirannya: statusnya harus “deadline every minute”. Harapannya, halaman dindingnya akan ramai dikomentari oleh teman-temannya.


Tapi ssstt… tunggu dulu, ternyata ada “pesan peringatan” buat mereka yang doyan meng-update statusnya. Pesannya lumayan mengagetkan: seseorang yang sangat bergantung pada FB cenderung tidak mempunyai teman lagi di dunia maya. Koq bisa? Karena sobat-sobatnya mulai risih dan bosan dengan statusnya yang terus diupdate setiap waktu. Mereka cenderung tak lagi mempedulikan status si pecandu FB, bahkan akan segera menghapusnya dari daftar teman.
Sungguh, ini cerita bukan datang dari gosip infotainmen di layar kaca, tapi berasal dari Denver Business School, Universitas Colorado AS, yang juga melakukan penelitian terhadap para pengguna FB. Christopher Siboa, seorang peneliti dari universitas itu menganalisa sekitar 1.500 akun FB hanya untuk mencari tahu apa alasan utama orang tidak ingin berteman lagi dalam jejaring sosial itu.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian orang bosan berteman dalam FB dikarenakan sangat risih membaca status sepele yang ditulis seseorang di halaman profil-nya. Hal-hal remeh-temeh yang bikin jenuh itu misalnya soal “menu sarapan”, “perjalanan ke kantor” atau soal gosip “selebritis favorit”. Selain yang disebutkan tadi, terpampangnya status tentang politik atau agama, serta komentar-komentar yang bernada rasis dan kasar termasuk yang “bikin gerah” hubungan pertemanan.
Uniknya, lanjut Siboa, orang justru tidak merasa terganggu jika namanya dihapus sebagai sahabat dalam situs pertemanan sosial tersebut. Siboa juga mengatakan bahwa belakangan ini, perusahaan atau calon majikan yang akan mencari karyawan dapat mengetahui kepribadian mereka melalui status yang mereka buat di jejaring sosial tersebut. Komentar-komentar yang “nyeleneh” dapat dipandang sebagai hal yang negatif oleh calon atasan.


Facebook memang selaksa semburan “bisa ular beludak”. Betapa tidak? Racunnya sanggup menghipnotis otak para penggunanya untuk bergeming di depan layar monitor. Mau bukti? Sekarang ada 500 juta pengakses jaringan ini di seluruh dunia.
Menurut data yang dirilis CheckFacebook, per 12 Oktober 2010, pengguna Facebook di Indonesia sudah mencapai 27.953.340. Dan situs pengamat internet Alexa menempatkan Facebook di posisi pertama peringkat situs yang paling sering diakses dari Indonesia, melampaui peringkat Google dan Yahoo!.
Efeknya tak hanya dirasakan orang-orang kantoran berparfum wangi semata, anak sekolah berseragam pun “terpasung” dengan jaringan pertemanan yang diciptakan oleh Mark Zuckerberg itu. Bahkan konon para pekerja seksualpun sekarang bisa “memantau” pelanggan hanya dengan satu sentuhan jari lentik di ponsel mereka.


Ah, semoga jutaan orang yang masih asyik menikmati keajaiban “Si Buku Tampang” itu bukanlah Narkissos yang dikutuk oleh Nemessis sebagai pencinta bayangannya sendiri.


elsaelsiwp

0 comments:

Posting Komentar