Statistik Kasus AIDS di Indonesia

Dalam rangka hari AIDS sedunia, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta berhasil memecahkan rekor MURI dengan membuat pita merah sepanjang 500 meter dalam rangka menyambut Hari AIDS Internasional. 
"Dengan pemecahan rekor Muri pita merah dengan panjang 500 meter itu diharapkan bisa kembali mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dan waspada terhadap penularan HIV/AIDS,"


berikut data yang di peroleh dari Departemen Kesehatan RI

956 kasus AIDS tambahan dilaporkan dalam triwulan Juli s.d. September 2010
2753 kasus AIDS dilaporkan 1 Januari s.d. 30 September 2010
22726 kasus AIDS dengan 4249 kematian dilaporkan secara kumulatif antara 1 Januari 1987 s.d. 30 September 2010
Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
AIDS
AIDS/IDU
Laki-laki
16731
8300
Perempuan
5911
645
Tak Diketahui
84
54
Jumlah
22726
8999
Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Faktor Risiko
Faktor Risiko
AIDS
Heteroseksual
11658
Homo-Biseksual
705
Penasun
9000
Transfusi Darah
45
Transmisi Perinatal
591
Tak Diketahui
727
Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Golongan Umur
Golongan Umur
AIDS
AIDS/IDU
<1
227
0
1 - 4
273
0
5 - 14
159
9
15 - 19
659
162
20 - 29
10863
5769
30 - 39
7045
2439
40 - 49
2091
315
49 - 59
591
61
>60
114
9
Tak Diketahui
704
235
Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Provinsi
No.
Provinsi
AIDS
AIDS/IDU
Mati
1
DKI Jakarta
3870
2744
565
2
Jawa Barat
3714
2697
663
3
Jawa Timur
3617
1024
753
4
Papua
2962
3
379
5
Bali
1747
269
311
6
Kalimantan Barat
1125
197
138
7
Jawa Tengah
872
170
273
8
Sulawesi Selatan
591
265
62
9
Sumatera Utara
485
209
93
10
Riau
477
135
132
11
DI Yogyakarta
458
130
107
12
Sumatera Barat
410
268
99
13
Kepulauan Riau
365
31
140
14
Banten
326
200
57
15
Sumatera Selatan
219
104
38
16
Maluku
192
79
70
17
Nusatenggara Timur
182
14
31
18
Sulawesi Utara
173
40
62
19
Jambi
166
96
50
20
Lampung
144
112
42
21
Nusatenggara Barat
142
50
69
22
Bangka Belitung
120
41
18
23
Bengkulu
119
60
27
24
Papua Barat
58
5
19
25
NAD
52
17
12
26
Kalimantan Tengah
49
12
4
27
Kalimantan Selatan
27
9
5
28
Sulawesi Tenggara
22
1
5
29
Maluku Utara
16
5
8
30
Sulawesi Tengah
12
6
6
31
Kalimantan Timur
11
4
10
32
Gorontalo
3
2
1
33
Sulawesi Barat
0
0
0
Jumlah
22726
8999
4249
Prevalensi Kasus AIDS per 100.000 Penduduk Berdasarkan Provinsi
No.
Provinsi
Prevalensi
1
Papua
140.37
2
Bali
49.16
3
DKI Jakarta
43.34
4
Kepulauan Riau
24.36
5
Kalimantan Barat
23.96
6
Maluku
14.21
7
DI Yogyakarta
13.44
8
Bangka Belitung
11.65
9
Jawa Timur
10.01
10
Sumatera Barat
9.10
11
Papua Barat
8.93
12
Jawa Barat
8.88
13
Riau
8.39
14
Sulawesi Utara
7.69
15
Bengkulu
6.80
16
Sulawesi Selatan
6.65
17
Jambi
5.80
18
Nusatenggara Timur
4.17
19
Sumatera Utara
3.71
20
Banten
3.14
21
Nusatenggara Barat
3.07
22
Sumatera Selatan
3.04
23
Jawa Tengah
2.70
24
Kalimantan Tengah
2.06
25
Lampung
1.86
26
Maluku Utara
1.67
27
NAD
1.27
28
Sulawesi Tenggara
0.95
29
Kalimantan Selatan
0.78
30
Sulawesi Tengah
0.46
31
Kalimantan Timur
0.35
32
Gorontalo
0.33
33
Sulawesi Barat
0.00
Nasional
9.85

Jumlah Kasus Baru AIDS Berdasarkan Tahun Pelaporan
Tahun
AIDS
AIDS/IDU
1987
5
0
1988
2
0
1989
5
0
1990
5
0
1991
15
0
1992
13
0
1993
24
1
1994
20
0
1995
23
1
1996
42
1
1997
44
0
1998
60
0
1999
94
10
2000
255
65
2001
219
62
2002
345
97
2003
316
122
2004
1195
822
2005
2638
1420
2006
2873
1517
2007
2947
1437
2008
4969
1255
2009
3863
1156
2010 s.d. September
2753
1033


Sumber : Ditjen PPM & PL Depkes RI

500 Juta Pengguna Facebook Adalah Para Narsis !!!

Syahdan dalam mitologi Yunani hiduplah seorang pemburu tampan luar biasa bernama Narkissos. Ketampanan telah membuatnya menjadi seorang yang sombong. Dia sering menolak cinta banyak gadis karena merasa mereka tak sepadan dengan dirinya.


Di antara para gadis yang kesengsempada Narkissos, tersebutlah seorang dewi bernama Ekho. Suatu hari secara diam-diam Ekho mengikuti Narkissos yang sedang berburu di dalam hutan. Di suatu tempat
Narkissos mendengar langkah kaki Ekho dan berteriak, “Siapa itu?”. Ekho menjawab dengan teriakan yang sama, “Siapa itu?”. Begitu seterusnya sampai akhirnya Ekho menampakkan diri dan memeluk sang pujaan hatinya. Narkissos terkaget-kaget dan berusaha melepaskan diri. Dia lalu mengusir Ekho dan meninggalkannya sendirian.


Karena merasa patah hati, Ekho memohon bantuan pada Nemessis, sang dewi pembalas dendam. Nemessis mengabulkan doa Ekho dengan mengutuk Narkissos supaya jatuh cinta kepada dirinya sendiri. Saat Narkissos melihat bayangan dirinya di sebuah kolam, tak henti-hentinya dia mengagumi sosok yang dipantulkan oleh air. Terus menerus seperti itu hingga ajal menjemputnya. Usai kematiannya, Narkissos lalu menjelma menjadi setangkai bunga, Bunga Narsis.


Kisah Narkissos inilah yang melatarbelakangi penggunaan kata “narsisisme” dalam ilmu psikologi modern. Definisi bebas dan singkat dari narsisismeadalah rasa cinta berlebihan terhadap diri sendiri. Manusia yang mengalaminya disebut “narsisis”, tapi orang Indonesia yang amat suka dengan singkatan biasa menyebutnya “narsis” saja. Dalam psikologi modern, mereka digolongkan sebagai pengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD).


NPD bukanlah penyakit. Gangguan kejiwaan ini terbentuk dalam diri seseorang oleh lingkungan terdekatnya sejak masih kecil. Orangtua yang terlalu memanjakan anak-anaknya, perfeksionis dan memaksakan nilai-nilai tertentu pada mereka, ditengarai sebagai penyebabnya. Faktor lainnya adalah pelecehan emosional, pujian berlebihan ketika si anak berkelakuan baik dan memaki-maki saat si anak melakukan kesalahan sepele.


Menurut bapak psikologi modern Sigmund Freud, sebetulnya manusia dilahirkan tanpa rasa ego, apalagi narsis. Ego berkembang dalam masa kanak-kanak ketika orangtua atau keluarga terdekatnya mengajarkan nilai-nilai standar yang mereka anut. Mereka berharap anaknya memiliki ideal ego, sebuah citra pribadi yang sempurna.


Para narsis mudah dikenali dari perilakunya. Umumnya mereka bersifat ego-sentris, merasa dirinya paling hebat, paling tampan atau paling cantik. Mereka sering memonopoli pembicaraan, anti kritik dan meyakini bahwa orang lain iri dengan kehebatan mereka. Mereka tampil perfeksionis di muka umum demi mendapatkan pujian, tapi merasa diri tak berharga saat menyendiri. Itulah sebabnya kenapa mereka sangat menyukai keramaian, baik di ruang-ruang fisik maupun virtual seperti Internet.
Maraknya situs-situs jejaring sosial atau pertemanan di Internet seperti Facebook bagaikan menghidupkan kembali “gen-gen” narsisme dalam diri manusia. Hasil penelitian yang dirilis dalam jurnal “Cyberpsychology, Behaviour and Social Networking” seperti dikutip The Daily Mail September lalu mengungkapkan bahwa menggunakan Facebook (FB) seperti memandang diri sendiri pada cermin. Mereka yang menghabiskan waktu memperbarui profilnya di Facebook kemungkinan besar adalah para narsis, kata para ilmuwan.
Menurut penelitian tersebut, Facebook menyediakan perangkat ideal bagi para narsis untuk memonitor penampilan mereka. Mereka suka menghitung berapa banyak “teman” yang mereka miliki meski hubungan pertemanan itu bersifat “dangkal”.


Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian itu mewawancarai 100 mahasiswa yang terdiri dari 50 pria dan 50 wanita berusia 18-25 tahun tentang kebiasan “ngeFBe” mereka. Mereka diuji dengan serangkaian tes psikologi untuk mengetahui tingkat narsisme. Ternyata mereka yang lebih sering memeriksa laman Facebook-nya memiliki skor narsisme lebih tinggi ketimbang yang lain. Penelitian juga menemukan bahwa facebooker yang “kurang pede” ternyata lebih sering mengunjungi FB dibanding rekan-rekannya.
Ilmuwan Soraya Mehdizadeh mengatakan bahwa banyak orang mungkin tidakhappy dengan temuan mereka. “Saya pikir orang akan bersifat defensif tentang hal ini, misalnya (dengan mengatakan)’Saya menggunakan Facebook bukan karena itu’, sebab itulah label (narsisme) yang tak ingin ditempelkan pada Anda.”


Memang sih, kenarsisan yang dibingkai pertemanan sering kita jumpai di FB. Ada facebooker yang di setiap kesempatan meng-update statusnya atau menggonta-ganti avatar (foto profil). Status yang ditulisnya seringkali adalah hal-hal sepele yang “nggak penting-penting banget” buat orang lain.
“Ritual” ini dilakukannya kapan dan dimana saja. Pokoknya, segala hal yang dia rasa perlu diberitakan, langsung ditumpahkan di status FB-nya. Entah karena nalurinya sebagai reporter atau hanya karena takut info yang didapatnya keduluan oleh yang lain. Cuma satu yang ada di pikirannya: statusnya harus “deadline every minute”. Harapannya, halaman dindingnya akan ramai dikomentari oleh teman-temannya.


Tapi ssstt… tunggu dulu, ternyata ada “pesan peringatan” buat mereka yang doyan meng-update statusnya. Pesannya lumayan mengagetkan: seseorang yang sangat bergantung pada FB cenderung tidak mempunyai teman lagi di dunia maya. Koq bisa? Karena sobat-sobatnya mulai risih dan bosan dengan statusnya yang terus diupdate setiap waktu. Mereka cenderung tak lagi mempedulikan status si pecandu FB, bahkan akan segera menghapusnya dari daftar teman.
Sungguh, ini cerita bukan datang dari gosip infotainmen di layar kaca, tapi berasal dari Denver Business School, Universitas Colorado AS, yang juga melakukan penelitian terhadap para pengguna FB. Christopher Siboa, seorang peneliti dari universitas itu menganalisa sekitar 1.500 akun FB hanya untuk mencari tahu apa alasan utama orang tidak ingin berteman lagi dalam jejaring sosial itu.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian orang bosan berteman dalam FB dikarenakan sangat risih membaca status sepele yang ditulis seseorang di halaman profil-nya. Hal-hal remeh-temeh yang bikin jenuh itu misalnya soal “menu sarapan”, “perjalanan ke kantor” atau soal gosip “selebritis favorit”. Selain yang disebutkan tadi, terpampangnya status tentang politik atau agama, serta komentar-komentar yang bernada rasis dan kasar termasuk yang “bikin gerah” hubungan pertemanan.
Uniknya, lanjut Siboa, orang justru tidak merasa terganggu jika namanya dihapus sebagai sahabat dalam situs pertemanan sosial tersebut. Siboa juga mengatakan bahwa belakangan ini, perusahaan atau calon majikan yang akan mencari karyawan dapat mengetahui kepribadian mereka melalui status yang mereka buat di jejaring sosial tersebut. Komentar-komentar yang “nyeleneh” dapat dipandang sebagai hal yang negatif oleh calon atasan.


Facebook memang selaksa semburan “bisa ular beludak”. Betapa tidak? Racunnya sanggup menghipnotis otak para penggunanya untuk bergeming di depan layar monitor. Mau bukti? Sekarang ada 500 juta pengakses jaringan ini di seluruh dunia.
Menurut data yang dirilis CheckFacebook, per 12 Oktober 2010, pengguna Facebook di Indonesia sudah mencapai 27.953.340. Dan situs pengamat internet Alexa menempatkan Facebook di posisi pertama peringkat situs yang paling sering diakses dari Indonesia, melampaui peringkat Google dan Yahoo!.
Efeknya tak hanya dirasakan orang-orang kantoran berparfum wangi semata, anak sekolah berseragam pun “terpasung” dengan jaringan pertemanan yang diciptakan oleh Mark Zuckerberg itu. Bahkan konon para pekerja seksualpun sekarang bisa “memantau” pelanggan hanya dengan satu sentuhan jari lentik di ponsel mereka.


Ah, semoga jutaan orang yang masih asyik menikmati keajaiban “Si Buku Tampang” itu bukanlah Narkissos yang dikutuk oleh Nemessis sebagai pencinta bayangannya sendiri.


elsaelsiwp