Sejarah Pandai Sikek

Sampai saat ini, sejarah tertulis tentang nagari Pandai Sikek belum ada, kecuali yang berasal dari catatan-catatan tentara Belanda ketika menghadapi perlawanan Paderi di Minangkabau. 
Catatan mereka menjadi bahan bagi pengarang-pengarang buku sejarah nasional. Misalnya kita tahu bahwa Haji Miskin yang berasal dari Pandai Sikek, kembali dari Makkah bersama dua orang haji lainnya, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka bertiga membawa angin pembaharuan dalam pengamalan ajaran Islam di Minangkabau dengan dasar paham Wahabi yang waktu itu sedang berkebang di Semenanjung Arabia. Ajaran yang dibawa para haji ini dirasakan sangat keras bagi masyarakat Minangkabau waktu itu dan menyebabkan konflik dengan penduduk dan para pemuka adat Minangkabau. Konflik ini kemudian ditunggangi oleh Belanda untuk menanamkan pengaruhnya di Minangkabau.
Bagian lain dari sejarah Pandai Sikek tentu sama dan sejalan dengan sejarah nasional pada umumnya dan sejarah Minangkabau secara luas.
Sebagaimana bagian lain dari Indonesia, kawasan Sumatra, Jawa dan pulau pulau besar lainnya hingga kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara, sudah dihuni oleh bangsa Melaya Muda yang disebut Deutro Malayu sejak kira-kira 2000-1000 tahun sebelum Masehi. Bangsa Melayu Muda ini datang dari kawasan Asia Tenggara dan membawa kebudayaan Dongson yang termasuk zaman Neolitikum. Untuk Pandai Sikek sendiri, dalam masa yang sudah beribu tahun itu, bisa saja ada berpenghuni, dan bisa saja pernah ditinggalkan penduduknya hingga menjadi hutan belantara, untuk kemudian “ditemukan” kembali dan diramaikan lagi. 
Jadi penduduknya bisa sudah berganti-ganti. Tetapi mengingat tempatnya yang subur dekat dengan gunun Merapi, dan karena kultur bercock tanam sudah dibawa sejak perpindahan nenek moyang orang Indonesia dari Asia Tenggara, kemungkina besar kawasan di sekeliling gunung Merapi, termasuk Pandai Sikek, sudah dihuni secara terus-menerus selama ribuan tahun.
Dalam masa yang sangat panjang itu, diapat diduga bahwa penghuni lereng-lereng gunung Merapi dan Singgalang sudah silih berganti: kemungkinan ada yang punah, ada yang bemigrasi ke daerah lain, atau didesak dan digantikan oleh kelompok berbeda yang datang dari tempat lain. Salah satu peristiwa perpindahan penduduk yang terbaru dan terekam dalam cerita orang tua-tua adalah kedatangan nenem moyang orang MInang yang sekarang ini, yaitu kedatangan Sultan Sri Maharaja Diraja di puncak gunung Merapi.
Peristiwa ini terekam dalam pantun:
Dari mana titik pelita
Dari telong nan batali,
Dari mana niniak kita
Dari puncak gunung barapi.
Dari peristiwa kedantangan rombongan yang kelihatannya sudah berbudaya tinggi inilah dimulainya tambo Minangkabau yang menceritakan perkembangan nagari-nagari di luhak nan tigo, dimulai dari nagari tuo Pariangan Padang Panjang, hingga ke rantau nan tujuah jurai, Pasaman, Indrapura, Kuantan, hingga ke Negeri Sembilan.


Pandai Sikek, dalam tambo ini, disebutkan didirikan atas perintah dari Tuan Gadang di Batipuah, yang bergelar Harimau Campo Koto Piliang. Beliau merasa perlu melindungi kekuasaan Koto Piliang yang berpusat di Sungai Tarab dengan mendirikan kubu-kubu pertahanan di sebelah barat. Untuk itu beliau mengirim beberapa orang Datuk beserta anak kemenakan dan keluarganya ke wilayah di barat dan selatan gunung Merapi. 

Mereka mendirikan sepuluh nagari sebagai benteng sehingga terkenallah Batipuah Sapuluah Koto. Nagari-nagari itu adalah:
1. Gunuang
2. Paninjauan
3. Pandai Sikek
4. Koto Laweh
5. Jaho
6. Tambangan
7. Sumpu
8. Malalo
9. Pitalah
10. Bungo Tanjuang


Tentu saja dalam membuka daerah tersebut para penghulu dan kemenakannya lebih dahulu mendirikan taratak-taratak, kubu, dan kampung. Jika dalam perkembangannya beberapa kampung sudah cukup maju dan ramai, kampung-kampung itu diresmikan menjadi nagari dengen struktur pemerintahan suku yang sistematis.
Pandai Sikek dalam perkembangannya dapat menjadi suatu nagari yang beridiri sendiri setelah mempunyai bebrapa suku. Saat ini terdapat di Pandai Sikek suku Koto Sungai Guruah, suku Koto Tibalai, Koto Limo Paruik, Koto Gantiang, suku Guci, suku Pisang, suku Sikumbang, Panyalai dan Jambak. Anak nagari di Pandai Sikek disebut urang nan Tujuah Suku dan penghulu Pandai Sikek disebut Panghulu nan Anamp Puluah.

Zaman penjajahan Belanda

Prasarana

Pada zaman penjajahan Belanda banyak dibangun jalan-jalan, baik jalan raya maupun jalan desa atau kampung. Pemeliharaan jalan ini sangat baik sekali, sehingga diceritakan bahwa satu kerikil saja yang terlempar ke luar jalan, dikembalikan lagi oleh petugas. Pengawas jalan disebut kontrolir. Urang Pandai Sikek juga berperan besar membangun jalan-jalan di tempat lain. Terkenal nama Demang Palin yang berasal dari Pandai Sikek dan berjasa sekali mebangun jalan-jalan di tempat dia bertugas sebagai Demang di daerah Solok.

Sebelum kedatangan Belanda, jalan-jalan yang ada antar kampung dan di dalam kampung tidak sama dengan keadaan sekarang ini. Misalnya jalan utama di Baruah adalah dari Kapalo Koto belok kiri ke arah belakang Kampung Dalam, terus ke selatan dan keluar di Belakang Balai. Jalan dari Koto Baru ke Baruah belum ada, dan jalan utama dalam nagari adalah dari Pakan Kurai di Koto Tinggi, terus masuk kampung di Koto Tinggi, dan ke selatan menyusuri Batan Aia Baruah di sebelah Batu Nyariang. Juga ada jalan utama ke arah selatan menuju Singgalang, Sigadunduang, dan melalui lembah antara gunung Singgalang dan gunung Tandikek terus ke Mudiak Padang dan Pariaman. Sebelum Belanda membangun jalan raya dan jalan kereta api dari Padang ke Sawah Lunto dan ke Bukittinggi, barang-barang oerdagangan masuk ke Bukittinggi melalui jalur ini, Pariaman terus ke Tandikek, terus ke Siganduduang, Pandai Sikek, Pakan Kurai, terus ke Bukittinggi. Jadi Pandai Sikek pernah berada di salah satu jalur perdagangan yang ramai dan penting. Dengan adanya jalan kereta api dari Padang Panjang ke Bukittinggi, jalur ini pindah ke Koto Baru.

Ekonomi
Pada zaman Belanda penduduk Minangkabau termasuk Pandai Sikek diwajibkan menanam tanaman keras yang menguntungkan bagi perdagangan yang dikelola oleh pemerintah Hindia Belanda. Di Pandai Sikek ditanama kopi. Anak nagari juga disuruh membuka lahan baru untuk penanaman kopi di daerah Ujuang Darek Kapalo Rantau, seperti Salodako dan Kayu Tanam. Mereka datang ke daerah itu menurut susunan suku dan Penghulu juga, dan tercatat dalam register pemerintah.

Setiap tahun para Penghulu dari tiap-tiap suku di Pandai Sikek dikumpulan di Balai, di Baruah, untuk cacah jiwa. Setiap penghulu melaporkan anak-kemenakannya yang sudah dewasa dan dapat dikenakan pajak jiwa yang disebut belesteng. Pajak ini besarnya satu rupiah Belanda dan harus lunas tiap tahun. Jika tidak lunas akan dicari dan dikejar oleh petugas sampai dapat. Banyak cerita tentang anak nagari yang terpaksa bekerja keras dua kali lipat mencarikan uang untuk melunasi hutang belestengya ini.
Pemerintah Belanda juga memajukan perdagangan dengan membuat pasar-pasar dan mengajurkan anak nagari untuk membawa hasil bumi ke pasar-pasar di Pandai Sikek, di Koto Baru dan Pasar Rabaa. Selain itu Pemerintah Belanda mengadakan pameran-pameran di Padang Panjang tempat anak nagari Pandai Sikek memamerkan hasil kerajinan tenun dan songket.

Adat dan Pemerintahan

Sebelum kedatangan Belanda, belum ada jabatan Wali Nagari atau dengan nama lain. Pemeritahan nagari dijalankan secara kolektif oleh para penghulu semua suku. Belanda kemudian membetuk jabatan penghulu kepala, dipanggul Angko Kapalo Nagari, yang diambil dari salah seorang Penghulu.
Belanda juga banyak campur tangan dalam mengatur susunan penghulu-penghulu di bagari. Pemerintah membuat berbagai peraturan yang membatasi pengangkatan penghulu. Akan tetapi para penghulu yang diangkat juga diberi SK pengangkatan oleh belanda, disebut besluit dan diberi gaji.
Para penghulu juga diberi wewenang yang lebih besar dalam mengatur anak kemenakannya. Penghulu dapat menyidangkan perkara-perkara pidana dan perdata yang terjadi di antara kemenakannya dan jika sudah dapat diputus, tidak perlu dibawa lagi kepada polisi dan pengadilan negri.
Beberapa orang Pandai Sikek yang pernah menduduki jabatan Lareh pada zaman Belanda ialah
         Lareh Dt.Rajobasa, suku Kotolimoparuik, Pagupagu
         Lareh Dt. Rajokatik, suku Pisang, Baruah
         Lareh Dt. Tunaro nan Bagojong, suku Kotosungaiguruah, Tanjuang, Lareh nan terakhir sampai tahun 1890.

Adapun penghulu yang meduduki jabatan Angku Palo atau Wali Nagari zaman Belanda ialah
         1890-1900, Angku Akie Dt. Rajo Mangkuto, suku Pisang, Tanjuang, Peralihan dari Lareh yang meliputi wilayah anam koto, kepada jabatan angkupalo yang meliputi Pandaisikek saja.
1900-1910, Dt. Panjang, dikenal sebagai Angkupalo Kusuik, suku Kotogantiang asal Tanjuang.
         1910 – 1938, Angkupalo Gaek Dt.Marajo, suku Kotolimoparuik, Kototinggi. Pada masa kepemimpinannya diresmikan Pakan Akaik di Baruah
         1938 – 1944 Angkupalo Jambek Dt.Srimarajodirajo, suku Sikumbang, Kototinggi, anak dari Angkupalo Gaek di atas

Pendidikan dan Agama

Pada zaman Belanda, rakyat diberi kebebasan yang cukup untuk menjalankan agama. Masyarakat mendirikan surau-surau tempat shalat dan sebagai sarana pendidikan adat dan agama. Juga didirikan sebuah mesjid di Surau Gadang dekat lokasi kantor Perindustrian sekarang dibawah Sawah Janggi. Mereka yang mampu dapat melanjutkan pendidikan agama di tempat lain seperti di surau-surau yang terkenal di Parabek dan Canduang. Banyak juga urang pandai sikek yang mampu menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Diantaranya, Haji Muhammand Hasan dari Koto Tibalai, Haji Abdul Rahman dari Koto Sungai Guruah, dan Haji Yunus, ayahanda dari Rahmah El-Yunusiyyah yang mendirikan Sekolah Diniyyah di Padang Panjang.

Ada juga anak nagari Pandai Sikek yang mendapat pendidikan umum pada zaman Belanda sampai menjadi dokter seperti Dokter Wahab dari Pagu-Pagu. Yang lainnya ada yang sampai menuduki jabatan-jabatan yang penting seperti sep (kepala) stasiun dan menjadi kepala pelabuhan Teluk Bayur.

Perlawanan terhadap penjajahan Belanda

Rakyat Pandai Sikek juga pernah melakukan perlawanan bersenjata terhadap Penjajahan Belanda. Sesudah beberapa tahun perang Padri, para pemuka Nagari Pandai Sikek baik yang berasal dari kalangan ulama maupun dari kalangan pemuka adat, bergabung dengan pasukan Paderi melawan belanda yang waktu itu membuat benteng di Guguak Sigandang. Pada tahun 1824 Belanda mengumpulkan para pemuka nagari dari Pandai Sikek, Koto Laweh dan Singgalang selama beberapa hari di benteng itu untuk kemudian dibunuh dan mayatnya dilempar ke jurang di sebelah barat bukit itu. Sanak saudara korban disuruh mengambil sendiri mayat-mayat para pejuang tersebut. Dari Pandai Sikek tercatat nama Datuak Putiah salah satu pejuang yang tewas terbunuh di benteng itu.

Pada penghujung masa penjajahan Belanda, tersebutlah Datuk Batuah, seorang penghulu yang juga guru agama beraliran sufi dari Pagu-pagu, memimpin perjuagan melawan peraturan belesteng yang dikenakan Belanda pada anak nagari. Pada suatu subuh, Datuk ini memimpin suatu rombongan menyusur kaki gunung Singgalang dan bukit Barisan, menuju Padang Panjang dan menyerang Tangsi Belanda di situ. Terjadi pertempuran yang hebat dan banyak tentara Belanda terbunuh di tempat itu.

Zaman pendudukan Jepang

Pada zaman pendudukan Jepang, rakyat Pandai Sikek ikut merasakan penderitaan yang hebat karena politik Jepang yang mebuang beras ke laut dan menyita semua kain dan bahan pakaian lainnya. Banyak orang terpakasa berbaju guni. Kebersihan menjadi tidak terpelihara dan banyak orang yang mati kelaparan.

Satu hal yang menarik adalah bahwa sebagian keluarga yang menyimpan kain tenun pusaka, memotong bagian yang tidak ada benang masnya, untuk dijadikan pakaian.
Selain itu, ada juga beberapa pemuda Pandai Sikek yang mengikuti pendidikan militer, disebut Heiho, disiapkan Jepang untuk menghadapai perang Asia Timur Raya.

Zaman Revolusi 1945-1950

Pada zaman revolusi, ketika kemerdekaan Republik Indonesia baru diproklamirkan, dan Belanda ingin kembali menjajah Indonesia, nagari Pandaisikek yang terletak di kaki gunung Singgalang yang berhutan lebat menjadi salah satu tempat pertahanan tentara pejuang republik. Banyak tentara dari tempat lain melakukan perjalanan melintasi hutan-hutan di sebelah barat. Dalam pengejarannya tentara Belanda seringkali mengumpulkan warga di tempat terbuka, di Balai Baruah misalnya dan meminta mereka menunjukkan tempat dimana para “laki-laki” bersembunyi. Mungkin maksud mereka, semua laki-laki dewasa dianggap tentara pejuang.

Penduduk menjadi ketakutan dan merasa diteror. Banyak cerita tentang orang-orang yang kedapatan berusaha menghindar dan ditembak oleh tentara Belanda. Selain itu, tentara Belanda juga menggeledah rumah-rumah penduduk.

Puncak kekerasan tentara Belanda ialah ketika mereka membakar rumah-rumah penduduk di Tanjung dan Pagu-pagu. Terjadi kebakaran besar yang sangat mengerikan. Kebanyakan rumah yang terbakar itu adalah rumah adat bagonjongyang besar-besar, yang tidak sanggup lagi dibangun sampai sekarang. Peristiwa ini terjadi pada hari Jumat, 6 Mei 1949.

Zaman PRRI tahun 1958-1959

Pada zaman PRRI, yang oleh masyarakat sering disebut “zaman bagolak”, hal yang sama terulang kembali: hutan-hutan di kaki gunung Singgalang, di sebelah barat nagari Pandai Sikek, menjadi tempat pelarian, persembunyian dan perlintasan para tentara yang tergabung dalam PRRI.
Warga Pandai Sikek sebagian mendukung perjuangan PRRI dan sebagian mendukung TNI. Keadaan ini membuat masyarakat agak terbelah dan memicu konflik yang tersembunyi. Keadaaan ini berlanjut hingga terjadinya peristiwa G30S/PKI.

Gerakan 30 September 1965

Masyarakat Pandai Sikek termasuk aktif berpolitik. Sebagian menjadi pendukung partai-partai yang besar yang di pusat memang saling berseberangan. Partai yang terbesar adalah partai Masyumi dan PKI. Sesudah peristiwa G30S meletus di Jakarta, Pemerintah menyatakan PKI sebagai partai terlarang dan pendukung serta simpatisan PKI ditangkap. Termasuk di Pandai Sikek dan nagari-nagari di sekitarnya. Di banyak tempat terjadi pengejaran dan pembunuhan terhadap orang-orang yang diduga menjadi pentolan PKI. Akan tetapi hanya satu pembunuhan terjadi di Pandai Sikek terhadap seseorang bernama Usman yang berasal dari nagari lain.


Perbandingan Umur Kucing Dengan Manusia

ready for adopt
Jika anda menanyakan, berapakah lama hidup kucing kesayangan anda? Apakah dapat hidup sama seperti umur manusia? seringkali pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul pada sebagian besar pemilik hewan kesayangan. 
Dokter hewan meyakini bahwa dalam menentukan umur hewan bisa berdasarkan pada gigi hewan tersebut. 
Gigi hewan menjadi petunjuk dalam penentuan umur hewan. Sepertinya hal ini telah menjadi suatu kebiasaan dalam penentuan umur hewan. Namun, bagi orang awaw penentuan berdasarkan gigi memang lah tak semudah yang dibayangkan. Butuh keahlian dan pengalaman sehingga penentuan umur hewan dapat tepat.

Cat owner home veterinary handbook "Aturan umum adalah bahwa satu tahun kucing adalah setara dengan tujuh tahun manusia, tapi ini tidak akurat. Usia Kucing memiliki perbandingan yang berbeda dari manusia. Beberapa kucing ada yang setara lebih dari tujuh tahun, dan ada pula yang lebih sedikit. Sebagai contoh, anak kucing membutuhkan sekitar satu tahun untuk tumbuh menjadi dewasa tubuh,sementara pada manusia,anak-anak jauh lebih lama. Jadi, tahun pertama kehidupan kucing mungkin setara dengan sekitar 15-16 tahun seorang anak.

Selain itu, tidak semua kucing usia pada tingkat yang sama. Usia biologis seekor kucing tergantung pada warisan genetik, gizi, kesehatan secara keseluruhan, dan Lingkungan serta perilaku hewan. Kucing ras Siam terkena memiliki rengtang waktu hidup longlived, sedangkan kucing ras Persia cenderung tidak bertahan cukup lama.

Berikut ini suatu teknik dalam penentuan Umur kucing kesayangan anda. Sebelumnya perlu diketahui kapan kucing kesayangan lahir. Umur 15 tahun pada manusia ternyata pada kucing merupakan tahun pertama kucing anda. Perhitungan ini didasarkan pada perbandingan usia ketika kucing dan manusia dewasa. Kucing mencapai kematangan seksual sekitar akhir tahun pertama mereka, dibandingkan dengan manusia mencapai masa remaja saat pertengahan.

Selanjutnya tambahkan sembilan tahun lagi untuk tahun kedua hidup kucing anda. Jumlah ini hanya perkiraan dan tergantung pada jenis kucing. Misalnya, kucing ras Maine Coon hanya sampai tiga sampai lima tahun.

Untuk setiap tahun berikutnya umur kucing anda di tambahkan empat tahun. Namun, masih ada tingkat perkembangan umur yang cepat dibandingkan dengan manusia tapi kurang daripada dalam dua tahun pertama. Konversi umur kucing anda ke umur manusia dengan menambahkan.
conversi usia kucing dan relatif setara dengan umur manusia:
umur kucing : umur manusia
1 : 15
2 : 24
3 : 28
4 : 32
5 : 36
6 : 40
seterusnya

Save The Environment By Playing Facebook Games

emissiongame
The popular trend for playing games on Facebook is being harnessed by Dosomething.org to encourage people to make environmentally beneficial changes while playing on the social networking site.
The new environmentally conscious Facebook game is called eMission and was created by the American Environmental Protection Agency and US group Dosomething.org, a cause driven organization for teenagers.


Players are placed in a coastal environment where they have to build and maintain a virtual habitat teeming with wildlife. Players can gain points and progress through the game by completing virtual challenges but the biggest rewards are given for completing environmentally friendly actions in the real world. 
These off-line carbon saving actions, switching to energy efficient bulbs for example, must be verified either by photographic evidence or testimonies from Facebook friends before the player can continue in the game. The eMission initiative is being promoted by Sophia Bush, a popular American actress who stars in the hit American TV series One Tree Hill.


In December, Dosomething.org plans to launch a scholarship program for people who play the game frequently and are involve in real life carbon reduction activities.


Other computer games with an environmental twist include the recently developed Fate of the World. In this game, billed as a strategy game with a conscious, players have to try and protect the world's resources and climate while simultaneously managing a growing population and increasing demands for food and energy. 

Tambo Kurai Limo Jorong

Berdasarkan penuturan Dt. Saribasa yang bersumber pula dari Dt. Mangulak Basa dan kemudian ditulis oleh Dt. Rangkayo Tuo, disebutkan bahwa  yang mula-mula datang untuk bermukim di Kurai Limo Jorong adalah dua  rombongan yang datang dari Pariangan Padang Panjang. Kedua rombongan itu yang berjumlah kurang aso saratuih (+100) orang, mula-mula menuju Tanjung Alam dalam Nagari Sungai Tarap, sesudah itu terus menuju ke suatu tempat yang bernama Padang Kurai. Disini rombongan itu kemudian terbagi dua, yaitu Rombongan Pertama menuju ke Tanjung Lasi dan Rombongan Kedua menuju ke Biaro Gadang.

Rombongan pertama, yang dikepalai oleh Bandaharo nan Bangkah, dari Tanjung Lasi terus ke Kubang Putih, kemudian terus ke hilir, berhenti di suatu tempat yang dinamai Gurun Lawik (daerah Kubu Tinggi sekarang dalam Jorong Tigo Baleh). Selanjutnya perjalanan diteruskan melalui Babeloan, berbelok ke Puhun (Barat) dan sampailah di suatu tempat yang kemudian diputuskan untuk bermukim di situ. Tempat itu oleh Bandaharo nan Bangkah dinamai Koto Jolong (Pakan Labuah sekarang, dalam Jorong Tigo Baleh). Rombongan yang datang dari arah Mudik (Selatan) ini adalah rombongan yang pertama yang sampai di Kurai Limo Jorong.

Rombongan kedua dipimpin oleh Rajo Bagombak gelar Yang Pituan Bagonjong. Ibunda Yang Pituan Bagonjong bernama Puti Ganggo Hati dan adiknya bernama Puti Gumala Ratna Dewi juga ikut dalam rombongan. Dari Biaro Gadang, yaitu dari arah Ujung (Timur), rombongan ini kemudian menuju ke suatu tempat yang dinamai Pautan Kudo (daerah persawahan di Parit Putus sekarang ini dan menjadi pusaka turun temurun Yang Dipituan Bagonjong), yaitu tempat dimana Yang Pituan Bagonjong menambatkan kudanya untuk beristirahat terlebih dahulu. Kemudian perjalanan diteruskan menuju ke suatu tempat yang dinamai Koto Katiak dan akhirnya sampai juga di Koto Jolong.


Setelah kedua rombongan berkumpul kembali maka terasa tempat permukiman tidak mencukupi untuk semua anggota rombongan, sehingga perlu diadakan musyawarah untuk bermufakat tentang pengembangannya. Dicapailah kata mufakat untuk membuat sebuah perkampungan lagi di sebelah Hilir (Utara) yang kemudian diberi nama Gobah Balai Banyak (Balai Banyak sekarang, dalam Jorong Tigo Baleh). Perkampungan ini dibatasi parit di sebelah Ujung (Timur) yang dinamai Parit Tarantang (Parik Antang sekarang, dalam Jorong Tigo Baleh) dan parit di sebelah Puhun (Barat) yang dinamai Parit Tuo (Tambuo sekarang).

Setelah beberapa lama kemudian diadakan lagi mufakat untuk memilih dan mengangkat beberapa orang menjadi Tuo-tuo yang akan mengurus kedua rombongan itu sehari-harinya. Hasil mufakat menetapkan sejumlah 13 orang yang disebut Pangka Tuo, yaitu 6 orang untuk ditempatkan di Hilir (Utara) dan 7 orang untuk ditempat-kan di sebelah Mudik (Selatan) dan masing-masingnya diberi gelar Datuak. Semua Pangka Tuo tersebut adalah saadaik  salimbago (berada dalam satu kelembagaan) yang disebut Panghulu Nan Tigo Baleh. Dari nama kelembagaan tersebut maka daerah pemukiman itu kemudian diberi nama Tigo Baleh (Tiga Belas).
Adapun 6 orang Pangka Tuo yang di Hilir (Urang Nan Anam) adalah:
Dt. Gunung Ameh / Dt. Indo Kayo
Dt. Mangkudun
Dt. Panduko Sati
Dt. Sikampuang
Dt. Mangulak Basa
Dt. Sari Basa

Sedangkan 7 orang Pangka Tuo yang di Mudiak (Urang Nan Tujuah) adalah:
Dt. Rangkayo Basa
Dt. Nan Adua
Dt. Mantiko Basa / Dt. Kapalo Koto
Dt. Asa Dahulu
Dt. Maruhun
Dt. Pado Batuah
Dt. Dunia Basa

Sebutan Urang Nan Anam dan Urang Nan Tujuah sampai sekarang masih tetap dipakai untuk menunjukan keutamaan gelar kepenghuluan yang bersangkutan sebagai gelar pusaka yang diwarisi dari Tuo-tuo yang mula-mula datang bermukim di Kurai Limo Jorong, terutama dalam mengatur posisi duduk dalam pertemuan adat (Lihat “Acara Adat Mendirikan Penghulu”).
Sesuai ketentuan di ranah Minang pada umumnya, perkawinan hanya diperbolehkan antar suku, sedangkan kesukuan ditentukan berdasarkan garis keturunan ibu. Jumlah suku seluruhnya ada 9 suku yaitu:
1. Suku Guci
2. Suku Pisang
3. Suku Sikumbang
4. Suku Jambak
5. Suku Tanjuang
6. Suku Salayan
7. Suku Simabua
8. Suku Koto
9. Suku Malayu

Dari hasil perkawinan antar suku tersebut, para pemukim di Tigo Baleh mempunyai keturunan yang makin lama makin banyak. Pemukiman yang semula hanya di dua tempat, yaitu Pakan Labuah dan Balai Banyak, meluas mulai dari daerah Parak Congkak, Ikua Labuah sampai ke Kapalo Koto. Akhirnya dalam Kerapatan Adat yang diadakan di Parak Congkak diputuskan untuk memindahkan sebagian pemukim menyeberangi parit Tambuo ke sebelah Puhun (Barat), untuk membuka tempat-tempat pemukiman baru.

Sistem Pemerintahan Menurut Adat Kurai Limo Jorong

Seluruh daerah pemukiman, termasuk Tigo Baleh, kemudian diberi nama Kurai dan dibagi menjadi 5 bagian, masing-masing disebut Jorong atau Nagari (sehingga disebut juga Kurai Limo Jorong). Kelima jorong tersebut masing-masing kemudian diberi nama:
1. Jorong Mandiangin
2. Jorong Guguk Panjang
3. Jorong Koto Salayan
4. Jorong Tigo Baleh
5. Jorong Aur Birugo

Dalam Kerapatan Adat tersebut juga diputuskan bahwa tatkala sebagian dari Panghulu nan Tigo Baleh akan meninggalkan Tigo Baleh maka kelembagaan tersebut terbagi menjadi 2 bagian yaitu Panghulu nan Tigo Baleh di Dalam dan Panghulu nan Tigo Baleh di Lua.
Panghulu Nan Tigo Baleh di Dalam adalah sebagian aggota Panghulu nan Tigo Baleh yang tetap tinggal di Tigo Baleh ditambah dengan beberapa orang Tuo-tuo sebagai penghulu yang baru, semuanya berjumlah 14 orang. Sedangkan Panghulu Tigo Baleh di Lua adalah sebagian anggota Panghulu nan Tigo Baleh yang meninggalkan Tigo Baleh, ditambah dengan beberapa orang Tuo-tuo sebagai penghulu yang baru, yang ikut pindah ke jorong-jorong yang lainnya, semuanya berjumlah 12 orang.
Selanjutnya dalam setiap Jorong diangkat masing-masing 4 orang Pangka Tuo Nagari yang secara kelembagaannya seluruhnya disebut Panghulu nan Duopuluah sebagai berikut:
1. Jorong Mandiangin - Dt. Malako Basa  suku Pisang
- Dt. Dadok Putiah  suku Pisang
- Dt. Majo Labiah  suku Sikumbang
- Dt. Barbangso  suku Tanjuang
2. Jorong Koto Salayan - Dt. Nan Basa  suku Pisang
- Dt. Kampuang Dalam suku Koto
- Dt. Kuniang  suku Guci
- Dt. Nan Gamuak  suku Salayan
3. Jorong Guguak Panjang - Dt. Nagari Labiah suku Jambak
- Dt. Pangulu Basa suku Jambak
- Dt. Majo Sati  suku Tanjuang
- Dt. Subaliak Langik suku Guci
4. Jorong Aur Birugo - Dt. Majo Nan Sati suku Guci
- Dt. Sunguik Ameh suku Pisang
- Dt. Tan Ameh  suku Jambak
- Dt. Malayau Basa suku Simabua
5. Jorong Tigo Baleh - Dt. Mangkudun  suku Guci
- Dt. Indo Kayo Labiah suku Pisang
- Dt. Rangkayo Basa suku Sikumbang
- Dt. Nan Adua  suku Koto

Selang beberapa lama kemudian terbentuklah secara mufakat Penghulu nan Duo Puluah Anam, yaitu suatu lembaga yang akan menjalankan adat di Kurai Limo Jorong. Lembaga ini terdiri dari 26 orang penghulu, yaitu:
“Penghulu nan Balimo” atau sekarang disebut Pucuak Nan Balimo
“Manti nan Sambilan” atau sekarang disebut Panghulu nan Sambilan
“Dubalang nan Duo Baleh” atau sekarang disebut Panghulu nan Duo Baleh

Disamping itu ada lagi yang disebut “Pangka Tuo Nan Saratuih”, yaitu Niniak Mamak yang di masing-masing jorong berfungsi sebagai Pangka Tuo KubuPangka Tuo HinduPangka Tuo Kampuang dan Pangka Tuo Banda.
Pangka Tuo Kubu dan Pangka Tuo Hindu berkuasa di tempatnya (kubu) masing-masing. Pangka Tuo Kubu yang tertinggi adalah Dt. Samiak dan Dt. Balai.
Pangka Tuo Kampuang berkuasa di kampung masing-masing, bekerja sama dengan Pangka Tuo Kubu dan Pangka Tuo Hindu. Dt. Panduko Sati (Tanjuang) adalah Pangka Tuo Kampuang yang tertinggi di Kurai.

Pangka Tuo Banda adalah terutama berfungsi di daerah persawahan, yaitu diangkat untuk mengatur secara teknis pembagian air ke sawah-sawah.
Pangka Tuo Nagari yang berkuasa penuh di Jorong (nagari) masing-masing dibantu serta bekerjasama dengan Pangka Tuo Kampuang, Pangka Tuo Kubu dan Pangka Tuo Hindu. Dalam kerjasama tersebut dipimpin oleh Penghulu Pucuak yang ada dalam Jorong yang bersangkutan.
Dengan demikian maka tingkatan kepenghuluan di Kurai Limo Jorong adalah sebagi berikut:
1. Penghulu Pucuak Nan Balimo
2. Penghulu Pucuak nan Sambilan
3. Penghulu Pucuak nan Duo Baleh
4. Empat penghulu yang dianggap termasuk Nan Duo Baleh atau Nan Duo Puluah Anam.
5. Ninik Mamak Pangka Tuo Nagari
6. Ninik Mamak Pangka Tuo Kampuang
7. Ninik Mamak Pangka Tuo Kubu
8. Ninik Mamak Pangka Tuo Hindu

Pangka Tuo Banda tidak termasuk dalam tingkatan kepenghuluan karena penghulu ini hanya mempunyai tugas dan kewajiban khusus menyangkut teknis pengairan dan tidak mempunyai wewenang dan tanggung jawab dari segi adat.
Semuanya itu disebut Niniak Mamak nan Balingka Aua yang dengan Panghulu nan Duo Puluah Anam merupakan Pucuak Bulek Urek Tunggang dalam Lembaga Kerapatan Adat Kurai Limo Jorong.
Semua penghulu disebut “nan gadang basa batuah”. Yang meng”gadang”kan adalah bako dan anak pusako, yang mem”basa”kan adalah nagari dan yang me”nuah”kan adalah anak kamanakan.

Pucuak Nan Balimo
Pucuak  nan Balimo adalah pimpinan adat tertinggi di Kurai Limo Jorong yang aggotanya terdiri dari:
- Dt. Bandaharo  suku Guci
- Dt. Yang Pituan   suku Pisang
- Dt. Sati    suku Sikumbang
- Dt. Rajo Mantari   suku Jambak
- Dt. Rajo Endah   suku Tanjuang

Pucuak Bulek nan Balimo diketuai oleh Dt. Bandaharo. Setiap keputusan yang telah dimufakati oleh Penghulu Pucuak nan Sembilan serta Penghulu Pucuak nan Duo Baleh mula-mula dihantarkan kepada Dt. Rajo Endah, kemudian diteruskan kepada Dt. Rajo Mantari, selanjutnya kepada Dt. Sati dan kemudian kepada Dt. Yang Pituan sebelum akhirnya kepada Dt. Bandaharo untuk diputuskan secara bulat, sarupo pisang gadang, dibukak kulik tampak isi, lalu dimakan habih-habih.

Dt. Bandaharo disebut pusek jalo pumpunan ikan, mamacik kato nan bulek. Juga dikenal sebagai nan basawah gadang.

Dt. Yang Pituan, dikenal sebagai nan batabuah larangan karena tugasnya untuk mengumpulkan / memanggil seluruh ninik-mamak / penghulu Kurai Limo Jorong untuk hadir dalam suatu acara adat, dibantu oleh Dt. Panghulu Sati dan Dt. Panghulu Basa.

Dt. Sati, dikenal sebagai nan bapadang puhun atau bapadi sakapuak hampo, baameh sapuro lancuang dan tetap di Campago, Mandiangin, sehingga disebut juga gadang sabingkah tanah di Mandiangin.

Dt. Rajo Mantari, dikenal sebagai nan baguguak panjang dan dikatakan gadang sabingkah tanah di Guguak Panjang.

Dt. Rajo Endah, dikenal sebagai nan babonjo baru (di daerah Tarok).

Panghulu Pucuak Nan Sambilan
Panghulu Pucuak nan Sambilan berfungsi untuk membulatkan keputusan hasil mufakat Panghulu nan Duo Baleh, bulek sarupo Inti, sebelum dihantarkan kepada Pucuak Bulek nan Balimo. Yang termasuk Panghulu nan Sambilan adalah:
- Dt. Pangulu Sati  suku Tanjuang
- Dt. Maharajo  suku Guci
- Dt. Batuah  suku Sikumbang
- Dt. Kayo  suku Jambak
- Dt. Sinaro  suku Simabua
- Dt. Putiah  suku Pisang
- Dt. Nan Baranam suku Salayan
- Dt. Bagindo Basa suku Koto
- Dt. Rajo Mulia  suku Pisang

Dt. Pangulu Sati adalah pimpinan adat Panghulu nan Sambilan.
Dt. Maharajo menguatkan pimpinan adat, memimpin penyelesaian masalah-masalah adat dibantu oleh Dt. Batuah dan Dt. Kayo.
Dt. Panghulu Sati, Dt. Maharajo, Dt. Batuah dan Dt. Kayo disebut manti atau Basa Ampek Balai, yang berfungsi untuk mengambil keputusan menurut adat.
Dt. Sinaro bersama-sama Dt. Putiah mengambil keputusan menurut adat, salangkah indak lalu, satapak indak suruik, maampang tuhua mamakok mati dan buliah suruik lalu.
Dt. Nan Baranam dikenal bataratak bakoto asiang.
Dt. Bagindo Basa dikenal baparik bakoto dalam.
Dt. Rajo Mulia dikenal sebagai nan bungsu dari nan sambilan.

Panghulu Pucuak Nan Duobaleh
Panghulu Pucuak nan Duo Baleh berfungsi untuk merumuskan keputusan hasil mufakat Panghulu nan Sambilan, mamicak-micak sarupo Pinyaram, sebelum dihantarkan kepada Panghulu Pucuak nan Sambilan. Yang termasuk Panghulu nan Duo Baleh adalah:
- Dt. Malaka   suku Guci
- Dt. Pangulu Basa  suku Sikumbang
- Dt. Simajo Nan Panjang  suku Tanjuang
- Dt. Rangkayo Nan Basa  suku Jambak
- Dt. Garang   suku Koto
- Dt. Bagindo   suku Pisang
- Dt. Tan Muhamad  suku Salayan
- Dt. Nan Angek   suku Pisang
- Dt. Panjang Lidah  suku Simabua
- Dt. nan Labiah   suku Pisang
- Dt. Palimo Bajau  suku Tanjuang
- Dt. Tumbaliak   suku Guci
Dt. Malaka, Dt. Panghulu Basa, Dt. Rangkayo Basa dan Dt. Simajo nan Panjang juga disebut Basa Ampek Balai.
Dt. Bagindo, dalam acara Mendirikan Penghulu adalah penghulu yang pertama menerima bagian daging dan tidak seperti untuk penghulu yang lainnya daging tersebut dicincang terlebih dahulu. Dt. Bagindo juga berfungsi menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara penghulu-penghulu di Kurai Limo Jorong. Disamping itu setiap kali mengadakan pertemuan antara penghulu-penghulu, untuk acara apapun, Dt. Bagindo juga berfungsi menyediakan makanan/minuman. Untuk itu Dt. Bagindo mempunyai sawah paduan yaitu sawah yang hasilnya oleh Dt. Bagindo digunakan untuk membiayai penyelenggaraan setiap pertemuan tersebut. Dt. Bagindo dibantu oleh Dt. Putiah dan Dt. Rajo Mulia.
Dt. Simarajo Nan Panjang pada masa dahulu adalah penghulu yang jabatannya menguasai semua kubu-kubu di Kurai Limo Jorong dan menjagainya.
Dt. Nan Angek dan Dt. Putiah disebut urang Pisang ampek rumah.
Dt. Panghulu Basa dan Dt. Batuah disebut bagobah di Balai Banyak.
Dt. Garang dan Dt. Bagindo Basa baparik Koto Dalam.
Dt. Tan Muhamad disebut babingkah tanah dan adalah panghulu yang bungsu di antara Panghulu Nan Duo Baleh.

Termasuk juga dalam Panghulu Nan Duo Baleh adalah Dt. Batuduang Putiah (Pisang), Dt. Nan Laweh (Pisang), Dt. Asa Basa (Jambak) dan Dt Majo Basa (Jambak). Kalau ada acara meresmikan Pangka Tuo Banda secara adat, maka ke-empat penghulu ini bekerjasama satu sama lain menjadi cancang mahandehan, lompek basitumpu. Yang tertinggi atau sebagai pimpinan dalam kerjasama di antara ke-empat penghulu ini, adalah Dt. Batuduang Putih.