Tampilkan postingan dengan label Kampuang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampuang. Tampilkan semua postingan

Tambo (sejarah) Kurai V Jorong Bukittinggi


Berdasarkan penuturan Dt. Saribasa yang bersumber pula dari Dt. Mangulak Basa dan kemudian ditulis oleh Dt. Rangkayo Tuo, disebutkan bahwa yang mula-mula datang untuk bermukim di Kurai Limo Jorong adalah dua rombongan yang datang dari Pariangan Padang Panjang. Kedua rombongan itu yang berjumlah kurang aso saratuih (+100) orang, mula-mula menuju Tanjung Alam dalam Nagari Sungai Tarap, sesudah itu terus menuju ke suatu tempat yang bernama Padang Kurai. Disini rombongan itu kemudian terbagi dua, yaitu Rombongan Pertama menuju ke Tanjung Lasi dan Rombongan Kedua menuju ke Biaro Gadang.

Rombongan pertama, yang dikepalai oleh Bandaharo nan Bangkah, dari Tanjung Lasi terus ke Kubang Putih, kemudian terus ke hilir, berhenti di suatu tempat yang dinamai Gurun Lawik (daerah Kubu Tinggi sekarang dalam Jorong Tigo Baleh). Selanjutnya perjalanan diteruskan melalui Babeloan, berbelok ke Puhun (Barat) dan sampailah di suatu tempat yang kemudian diputuskan untuk bermukim di situ. Tempat itu oleh Bandaharo nan Bangkah dinamai Koto Jolong (Pakan Labuah sekarang, dalam Jorong Tigo Baleh). Rombongan yang datang dari arah Mudik (Selatan) ini adalah rombongan yang pertama yang sampai di Kurai Limo Jorong.

Rombongan kedua dipimpin oleh Rajo Bagombak gelar Yang Pituan Bagonjong. Ibunda Yang Pituan Bagonjong bernama Puti Ganggo Hati dan adiknya bernama Puti Gumala Ratna Dewi juga ikut dalam rombongan. Dari Biaro Gadang, yaitu dari arah Ujung (Timur), rombongan ini kemudian menuju ke suatu tempat yang dinamai Pautan Kudo (daerah persawahan di Parit Putus sekarang ini dan menjadi pusaka turun temurun Yang Dipituan Bagonjong), yaitu tempat dimana Yang Pituan Bagonjong menambatkan kudanya untuk beristirahat terlebih dahulu. Kemudian perjalanan diteruskan menuju ke suatu tempat yang dinamai Koto Katiak dan akhirnya sampai juga di Koto Jolong.

Setelah kedua rombongan berkumpul kembali maka terasa tempat permukiman tidak mencukupi untuk semua anggota rombongan, sehingga perlu diadakan musyawarah untuk bermufakat tentang pengembangannya. Dicapailah kata mufakat untuk membuat sebuah perkampungan lagi di sebelah Hilir (Utara) yang kemudian diberi nama Gobah Balai Banyak (Balai Banyak sekarang, dalam Jorong Tigo Baleh). Perkampungan ini dibatasi parit di sebelah Ujung (Timur) yang dinamai Parit Tarantang (Parik Antang sekarang, dalam Jorong Tigo Baleh) dan parit di sebelah Puhun (Barat) yang dinamai Parit Tuo (Tambuo sekarang).

Setelah beberapa lama kemudian diadakan lagi mufakat untuk memilih dan mengangkat beberapa orang menjadi Tuo-tuo yang akan mengurus kedua rombongan itu sehari-harinya. Hasil mufakat menetapkan sejumlah 13 orang yang disebut Pangka Tuo, yaitu 6 orang untuk ditempatkan di Hilir (Utara) dan 7 orang untuk ditempat-kan di sebelah Mudik (Selatan) dan masing-masingnya diberi gelar Datuak. Semua Pangka Tuo tersebut adalah saadaik salimbago (berada dalam satu kelembagaan) yang disebut Panghulu Nan Tigo Baleh. Dari nama kelembagaan tersebut maka daerah pemukiman itu kemudian diberi nama Tigo Baleh (Tiga Belas).

Adapun 6 orang Pangka Tuo yang di Hilir (Urang Nan Anam) adalah:
Dt. Gunung Ameh / Dt. Indo Kayo
Dt. Mangkudun
Dt. Panduko Sati
Dt. Sikampuang
Dt. Mangulak Basa
Dt. Sari Basa

Sedangkan 7 orang Pangka Tuo yang di Mudiak (Urang Nan Tujuah) adalah:
Dt. Rangkayo Basa
Dt. Nan Adua
Dt. Mantiko Basa / Dt. Kapalo Koto
Dt. Asa Dahulu
Dt. Maruhun
Dt. Pado Batuah
Dt. Dunia Basa

Sebutan Urang Nan Anam dan Urang Nan Tujuah sampai sekarang masih tetap dipakai untuk menunjukan keutamaan gelar kepenghuluan yang bersangkutan sebagai gelar pusaka yang diwarisi dari Tuo-tuo yang mula-mula datang bermukim di Kurai Limo Jorong, terutama dalam mengatur posisi duduk dalam pertemuan adat (Lihat “Acara Adat Mendirikan Penghulu”).

Sesuai ketentuan di ranah Minang pada umumnya, perkawinan hanya diperbolehkan antar suku, sedangkan kesukuan ditentukan berdasarkan garis keturunan ibu. Jumlah suku seluruhnya ada 9 suku yaitu:
1. Suku Guci
2. Suku Pisang
3. Suku Sikumbang
4. Suku Jambak
5. Suku Tanjuang
6. Suku Salayan
7. Suku Simabua
8. Suku Koto
9. Suku Malayu

Dari hasil perkawinan antar suku tersebut, para pemukim di Tigo Baleh mempunyai keturunan yang makin lama makin banyak. Pemukiman yang semula hanya di dua tempat, yaitu Pakan Labuah dan Balai Banyak, meluas mulai dari daerah Parak Congkak, Ikua Labuah sampai ke Kapalo Koto. Akhirnya dalam Kerapatan Adat yang diadakan di Parak Congkak diputuskan untuk memindahkan sebagian pemukim menyeberangi parit Tambuo ke sebelah Puhun (Barat), untuk membuka tempat-tempat pemukiman baru.
Sistem Pemerintahan Menurut Adat Kurai Limo Jorong

Seluruh daerah pemukiman, termasuk Tigo Baleh, kemudian diberi nama Kurai dan dibagi menjadi 5 bagian, masing-masing disebut Jorong atau Nagari (sehingga disebut juga Kurai Limo Jorong). Kelima jorong tersebut masing-masing kemudian diberi nama:
1. Jorong Mandiangin
2. Jorong Guguk Panjang
3. Jorong Koto Salayan
4. Jorong Tigo Baleh
5. Jorong Aur Birugo

Dalam Kerapatan Adat tersebut juga diputuskan bahwa tatkala sebagian dari Panghulu nan Tigo Baleh akan meninggalkan Tigo Baleh maka kelembagaan tersebut terbagi menjadi 2 bagian yaitu Panghulu nan Tigo Baleh di Dalam dan Panghulu nan Tigo Baleh di Lua.

Panghulu Nan Tigo Baleh di Dalam adalah sebagian aggota Panghulu nan Tigo Baleh yang tetap tinggal di Tigo Baleh ditambah dengan beberapa orang Tuo-tuo sebagai penghulu yang baru, semuanya berjumlah 14 orang. Sedangkan Panghulu Tigo Baleh di Lua adalah sebagian anggota Panghulu nan Tigo Baleh yang meninggalkan Tigo Baleh, ditambah dengan beberapa orang Tuo-tuo sebagai penghulu yang baru, yang ikut pindah ke jorong-jorong yang lainnya, semuanya berjumlah 12 orang.

Selanjutnya dalam setiap Jorong diangkat masing-masing 4 orang Pangka Tuo Nagari yang secara kelembagaannya seluruhnya disebut Panghulu nan Duopuluah sebagai berikut:
1. Jorong Mandiangin
- Dt. Malako Basa suku Pisang
- Dt. Dadok Putiah suku Pisang
- Dt. Majo Labiah suku Sikumbang
- Dt. Barbangso suku Tanjuang

2. Jorong Koto Salayan
- Dt. Nan Basa suku Pisang
- Dt. Kampuang Dalam suku Koto
- Dt. Kuniang suku Guci
- Dt. Nan Gamuak suku Salayan

3. Jorong Guguak Panjang
- Dt. Nagari Labiah suku Jambak
- Dt. Pangulu Basa suku Jambak
- Dt. Majo Sati suku Tanjuang
- Dt. Subaliak Langik suku Guci

4. Jorong Aur Birugo
- Dt. Majo Nan Sati suku Guci
- Dt. Sunguik Ameh suku Pisang
- Dt. Tan Ameh suku Jambak
- Dt. Malayau Basa suku Simabua

5. Jorong Tigo Baleh
- Dt. Mangkudun suku Guci
- Dt. Indo Kayo Labiah suku Pisang
- Dt. Rangkayo Basa suku Sikumbang
- Dt. Nan Adua suku Koto

Selang beberapa lama kemudian terbentuklah secara mufakat Penghulu nan Duo Puluah Anam, yaitu suatu lembaga yang akan menjalankan adat di Kurai Limo Jorong. Lembaga ini terdiri dari 26 orang penghulu, yaitu:

“Penghulu nan Balimo” atau sekarang disebut Pucuak Nan Balimo
“Manti nan Sambilan” atau sekarang disebut Panghulu nan Sambilan
“Dubalang nan Duo Baleh” atau sekarang disebut Panghulu nan Duo Baleh

Disamping itu ada lagi yang disebut “Pangka Tuo Nan Saratuih”, yaitu Niniak Mamak yang di masing-masing jorong berfungsi sebagai Pangka Tuo Kubu, Pangka Tuo Hindu,

Pangka Tuo Kampuang dan Pangka Tuo Banda.
Pangka Tuo Kubu dan Pangka Tuo Hindu berkuasa di tempatnya (kubu) masing-masing. Pangka Tuo Kubu yang tertinggi adalah Dt. Samiak dan Dt. Balai.
Pangka Tuo Kampuang berkuasa di kampung masing-masing, bekerja sama dengan Pangka Tuo Kubu dan Pangka Tuo Hindu. Dt. Panduko Sati (Tanjuang) adalah Pangka Tuo Kampuang yang tertinggi di Kurai.

Pangka Tuo Banda adalah terutama berfungsi di daerah persawahan, yaitu diangkat untuk mengatur secara teknis pembagian air ke sawah-sawah.
Pangka Tuo Nagari yang berkuasa penuh di Jorong (nagari) masing-masing dibantu serta bekerjasama dengan Pangka Tuo Kampuang, Pangka Tuo Kubu dan Pangka Tuo Hindu. Dalam kerjasama tersebut dipimpin oleh Penghulu Pucuak yang ada dalam Jorong yang bersangkutan.

Dengan demikian maka tingkatan kepenghuluan di Kurai Limo Jorong adalah sebagi berikut:
1. Penghulu Pucuak Nan Balimo
2. Penghulu Pucuak nan Sambilan
3. Penghulu Pucuak nan Duo Baleh
4. Empat penghulu yang dianggap termasuk Nan Duo Baleh atau Nan Duo Puluah Anam.
5. Ninik Mamak Pangka Tuo Nagari
6. Ninik Mamak Pangka Tuo Kampuang
7. Ninik Mamak Pangka Tuo Kubu
8. Ninik Mamak Pangka Tuo Hindu

Pangka Tuo Banda tidak termasuk dalam tingkatan kepenghuluan karena penghulu ini hanya mempunyai tugas dan kewajiban khusus menyangkut teknis pengairan dan tidak mempunyai wewenang dan tanggung jawab dari segi adat.
Semuanya itu disebut Niniak Mamak nan Balingka Aua yang dengan Panghulu nan Duo Puluah Anam merupakan Pucuak Bulek Urek Tunggang dalam Lembaga Kerapatan Adat Kurai Limo Jorong.

Semua penghulu disebut “nan gadang basa batuah”. Yang meng”gadang”kan adalah bako dan anak pusako, yang mem”basa”kan adalah nagari dan yang me”nuah”kan adalah anak kamanakan.

Pucuak Nan Balimo

Pucuak nan Balimo adalah pimpinan adat tertinggi di Kurai Limo Jorong yang aggotanya terdiri dari:
- Dt. Bandaharo suku Guci
- Dt. Yang Pituan suku Pisang
- Dt. Sati suku Sikumbang
- Dt. Rajo Mantari suku Jambak
- Dt. Rajo Endah suku Tanjuang

Pucuak Bulek nan Balimo diketuai oleh Dt. Bandaharo. Setiap keputusan yang telah dimufakati oleh Penghulu Pucuak nan Sembilan serta Penghulu Pucuak nan Duo Baleh mula-mula dihantarkan kepada Dt. Rajo Endah, kemudian diteruskan kepada Dt. Rajo Mantari, selanjutnya kepada Dt. Sati dan kemudian kepada Dt. Yang Pituan sebelum akhirnya kepada Dt. Bandaharo untuk diputuskan secara bulat, sarupo pisang gadang, dibukak kulik tampak isi, lalu dimakan habih-habih.

Dt. Bandaharo disebut pusek jalo pumpunan ikan, mamacik kato nan bulek. Juga dikenal sebagai nan basawah gadang.

Dt. Yang Pituan, dikenal sebagai nan batabuah larangan karena tugasnya untuk mengumpulkan / memanggil seluruh ninik-mamak / penghulu Kurai Limo Jorong untuk hadir dalam suatu acara adat, dibantu oleh Dt. Panghulu Sati dan Dt. Panghulu Basa.
Dt. Sati, dikenal sebagai nan bapadang puhun atau bapadi sakapuak hampo, baameh sapuro lancuang dan tetap di Campago, Mandiangin, sehingga disebut juga gadang sabingkah tanah di Mandiangin.

Dt. Rajo Mantari, dikenal sebagai nan baguguak panjang dan dikatakan gadang sabingkah tanah di Guguak Panjang.

Dt. Rajo Endah, dikenal sebagai nan babonjo baru (di daerah Tarok).
Panghulu Pucuak Nan Sambilan

Panghulu Pucuak nan Sambilan berfungsi untuk membulatkan keputusan hasil mufakat Panghulu nan Duo Baleh, bulek sarupo Inti, sebelum dihantarkan kepada Pucuak Bulek nan Balimo.
Yang termasuk Panghulu nan Sambilan adalah:
- Dt. Pangulu Sati suku Tanjuang
- Dt. Maharajo suku Guci
- Dt. Batuah suku Sikumbang
- Dt. Kayo suku Jambak
- Dt. Sinaro suku Simabua
- Dt. Putiah suku Pisang
- Dt. Nan Baranam suku Salayan
- Dt. Bagindo Basa suku Koto
- Dt. Rajo Mulia suku Pisang

Dt. Pangulu Sati adalah pimpinan adat Panghulu nan Sambilan.
Dt. Maharajo menguatkan pimpinan adat, memimpin penyelesaian masalah-masalah adat dibantu oleh Dt. Batuah dan Dt. Kayo.
Dt. Panghulu Sati, Dt. Maharajo, Dt. Batuah dan Dt. Kayo disebut manti atau Basa Ampek Balai, yang berfungsi untuk mengambil keputusan menurut adat.
Dt. Sinaro bersama-sama Dt. Putiah mengambil keputusan menurut adat, salangkah indak lalu, satapak indak suruik, maampang tuhua mamakok mati dan buliah suruik lalu.
Dt. Nan Baranam dikenal bataratak bakoto asiang.
Dt. Bagindo Basa dikenal baparik bakoto dalam.
Dt. Rajo Mulia dikenal sebagai nan bungsu dari nan sambilan.
Panghulu Pucuak Nan Duobaleh
Panghulu Pucuak nan Duo Baleh berfungsi untuk merumuskan keputusan hasil mufakat Panghulu nan Sambilan, mamicak-micak sarupo Pinyaram, sebelum dihantarkan kepada Panghulu Pucuak nan Sambilan.

Yang termasuk Panghulu nan Duo Baleh adalah:
- Dt. Malaka suku Guci
- Dt. Pangulu Basa suku Sikumbang
- Dt. Simajo Nan Panjang suku Tanjuang
- Dt. Rangkayo Nan Basa suku Jambak
- Dt. Garang suku Koto
- Dt. Bagindo suku Pisang
- Dt. Tan Muhamad suku Salayan
- Dt. Nan Angek suku Pisang
- Dt. Panjang Lidah suku Simabua
- Dt. nan Labiah suku Pisang
- Dt. Palimo Bajau suku Tanjuang
- Dt. Tumbaliak suku Guci

Dt. Malaka, Dt. Panghulu Basa, Dt. Rangkayo Basa dan Dt. Simajo nan Panjang juga disebut Basa Ampek Balai.
Dt. Bagindo, dalam acara Mendirikan Penghulu adalah penghulu yang pertama menerima bagian daging dan tidak seperti untuk penghulu yang lainnya daging tersebut dicincang terlebih dahulu. Dt. Bagindo juga berfungsi menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara penghulu-penghulu di Kurai Limo Jorong. Disamping itu setiap kali mengadakan pertemuan antara penghulu-penghulu, untuk acara apapun, Dt. Bagindo juga berfungsi menyediakan makanan/minuman. Untuk itu Dt. Bagindo mempunyai sawah paduan yaitu sawah yang hasilnya oleh Dt. Bagindo digunakan untuk membiayai penyelenggaraan setiap pertemuan tersebut. Dt. Bagindo dibantu oleh Dt. Putiah dan Dt. Rajo Mulia.
Dt. Simarajo Nan Panjang pada masa dahulu adalah penghulu yang jabatannya menguasai semua kubu-kubu di Kurai Limo Jorong dan menjagainya.
Dt. Nan Angek dan Dt. Putiah disebut urang Pisang ampek rumah.
Dt. Panghulu Basa dan Dt. Batuah disebut bagobah di Balai Banyak.
Dt. Garang dan Dt. Bagindo Basa baparik Koto Dalam.
Dt. Tan Muhamad disebut babingkah tanah dan adalah panghulu yang bungsu di antara Panghulu Nan Duo Baleh.

Termasuk juga dalam Panghulu Nan Duo Baleh adalah Dt. Batuduang Putiah (Pisang), Dt. Nan Laweh (Pisang), Dt. Asa Basa (Jambak) dan Dt Majo Basa (Jambak). Kalau ada acara meresmikan Pangka Tuo Banda secara adat, maka ke-empat penghulu ini bekerjasama satu sama lain menjadi cancang mahandehan, lompek basitumpu. Yang tertinggi atau sebagai pimpinan dalam kerjasama di antara ke-empat penghulu ini, adalah Dt. Batuduang Putih.


Source: Tambo (sejarah) Kurai Lima Jorong - Bukittinggi | rangminang

legenda Malin Kundang

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.
Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.
Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.
Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.

Pantai Air Manih

Sejarah Perang Paderi

Akhir keberpihakan golongan penghulu terhadap Belanda

Sementara kaum Padri bergerak menguasai Tapanuli Selatan dan daerah pesisir barat Minangkabau, Belanda muncul kembali di Padang. Tuanku Pamansiangan salah seorang pemimpin di Luhak Agam mengusulkan kepada Imam Bonjol untuk menarik pasukan Padri dari Tapanuli Selatan dan menggempur kedudukan Belanda di Padang yang belum begitu kuat. Karena baru saja serah terima kekuasaan dari Inggeris (1819). Tetapi perwira-perwira Padri seperti Tuanku Raos, Tuanku Tambusi dan Tuanku Lelo dari Tapanuli Selatan ber¬kebaratan untuk melaksakan usul itu, oleh karena itu Imam Bonjol hanya dapat memantau kegiatan dan gerakan pasukan Belanda melalui kurir-kurir yang sengaja dikirim ke sana.
Belanda yang tahu bahwa daerah pesisir seperti Pariaman, Tiku, Air Bangis adalah daerah strategis yang telah dikuasai kaum Padri, maka Belanda telah membagi pasukan untuk merebut daerah-daerah ter¬sebut. Dalam menghadapi serangan Belanda ini, maka terpaksa kaum Padri yang berada di Tapanuli Selatan di bawah pimpinan Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi dikirim untuk menghadapinya. Pertempuran sengit terjadi dan pada tahun 1821 Tuanku Rao gugur sebagai syuhada di Air Bangis. Perlawanan pasukan Padri melawan pasukan Belanda diteruskan dengan pimpinan Tuanku Tambusi.
Kemenangan yang diperoleh Belanda dalam medan pertempuran menghadapi pasukan Padri, menumbuhkan semangat bagi golongan penghulu, yang selama ini kekuasaannya telah lepas. Dengan secara diam-diam para penghulu Minangkabau mengadakan perjanjian kerjasama dengan Belanda untuk memerangi kaum Padri. Para penghulu yang mengatasnamakan yang Dipertuan Minangkabau langsung mengikat perjanjian kerjasama dengan Residen Belanda di Padang yang bernama Du Puy.
Dengan terjalinnya kerjasama antara para penghulu dengan Belanda, maka berarti kaum Padri akan menghadapi bahaya besar. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba Tuanku Nan Renceh, Yang menjadi pimpinan tertinggi kaum Padri yang gemilang pada tahun 1820 wafat. Kekosongan ini secara demokrasi diisi oleh Iman Bonjol. Atas persetujuan para perwira pasukan Padri, Imam Bonjol langsung memimpin gerakan Padri untuk menghadapi pasukan gabungan Belanda-Penghulu.
Pada tahun 1821 pertahanan Belanda di Semawang diserang oleh pasukan Padri; sedangkan pasukan Belanda yang mencoba memasuki Lintau dicerai-beraikan. Untuk menguasai medan, pasukan Belanda membuat benteng di Batusangkar dengan nama ‘Benteng atau Fort van der Capellen’. Berulang kali pasukan Belanda-Penghulu menyerang kedudukan pasukan Padri di Lintau, tetapi selalu mendapati kegagalan, bahkan pernah pasukan Belanda-Penghulu terjebak.
Perlawanan yang sengit dari pasukan Padri, mendorong Belanda untuk memperkuat pasukannya di Padang. Pada akhir tahun 1821 Belanda mengirimkan pasukannya dari Batavia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff. Dengan bantuan militer yang lengkap persenjataannya, pasukan Belanda melakukan ofensif terhadap kedudukan pasukan Padri.
Operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda-Penghulu ditujukan ke daerah yang dianggap strategis yaitu Luhak Tanah Datar. Dengan menaklukkan Luhak Tanah Datar, yang berpusat di Pagaruyung, menurut dugaan Belanda perlawanan pasukan Padri akan mudah ditumpas. Oleh karena itu pada tahun 1822 pasukan Belanda-Penghulu di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff menyerang Pagaruyung. Pertempuran sengit terjadi, korban dari kedua pihak banyak yang berjatuhan. Karena kekuatan yang tidak seimbang, akhirnya pasukan Padri mengundurkan diri ke daerah Lintau setelah meninggalkan korban di pihak Belanda yang cakup besar.
Usaha pengejaran dilakukan terus oleh pasukan Belanda dengan jalan mendatangkan bantuan dari Batusangkar. Tetapi pasukan Belanda sesampainya di Lintau seluruhnya dapat dipukul mundur dan terpaksa kembali ke pangkalan mereka di Batusangkar.
Setelah Belanda memperkuat diri, ofensif dilakukan kembali dengan jalan memblokade daerah Lintau, sehingga terputus hubungannya dengan Luhak Lima Puluh Kota dan Luhak Agam. Walaupun nagari Tanjung Alam dapat direbut oleh pasukan Belanda, tetapi usaha¬nya untuk merebut Lintau dapat dipatahkan, karena pasukan Padri di Luhak Agam di bawah pimpinan Tuanku Pamansiangan memberikan perlawanan yang sengit. Kemudian Letnan Kolonel Raaff menyusun kembali pasukannya untuk merebut Luhak Agam, Koto Lawas, Pandai Sikat dan Gunung; dan kali ini berhasil, setelah melalui pertempuran dahsyat, di mana Tuanku Pamansiangan dapat tertangkap, yang kemudian dihukum gantung oleh Belanda.
Pada akhir tahun 1822 pasukan Padri di bawah pimpinan Imam Bonjol melakukan serangan balasan terhadap pasukan Belanda di berbagai daerah yang pernah didudukinya. Pertama-tama Air Bangis mendapat serang¬an pasukan Padri. Operasi ke Air Bangis ini langsung dipimpin oleh Imam Bonjol dibantu oleh perwira-perwira pasukan Padri dari Tapanuli Selatan. Hanya dengan pertahanan yang luar biasa dan dibantu dengan tembakan-tembakan meriam laut, Air Bangis dapat selamat dari serangan pasukan Padri. Kegagalan ini, pasukan Padri mencoba merebut kembali daerah Luhak Agam. Serangan pasukan Padri ke daerah ini berhasil merebut kembali daerah Sungai Puar, Gunung, Sigandang dan beberapa daerah lainnya.
Awal tahun 1823 Kolonel Raaff mendapatkan tambahan pasukan militer dari Batavia. Dengan kekuatan baru, pasukan Belanda mengadakan operasi militer besar-besaran untuk merebut seluruh Luhak Tanah Datar. Tetapi di bukit Marapalam terjadi pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri selama tiga hari tiga malam, sehingga Belanda terpaksa harus mengundurkan diri. Tetapi operasi militer Belanda itu diarahkan ke Luhak Agam seperti daerah Biaro dan Gunung Singgalang. Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri, tetapi karena kekuatan pasukan Belanda jauh lebih besar, akhirnya daerah-daerah itu dapat direbutnya. Kemenangan pasukan Belanda diikuti oleh tindakan biadab dengan jalan melakukan pembunuhan massal terhadap penduduk, besar-kecil, laki-laki maupun perempuan.
Pengalaman pertempuran selama tahun 1823, membuat Belanda berhitung dua kali. Sebab banyak daerah yang telah direbutnya, ternyata dapat kembali diambil oleh pasukan Padri. Operasi militer besar-besaran dengan tambahan pasukan dari Batavia terbukti tidak dapat menumpas pasukan Padri. Oleh karena itu, untuk kepentingan konsolidasi, Belanda berusaha untuk mengadakan perjanjian gencatan senjata. Usaha ini berhasil, sehingga pada tanggal 22 Januari 1824 perjanjian gencatan senjata di Masang ditanda-tangani oleh Belanda dan kaum Padri.
Perjanjian Masang hanya dapat bertahan kira-kira satu bulan lebih sedikit. Sebab Belanda dengan tiba-tiba mengadakan gerakan militer ke daerah Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam. Melalui pertempuran dahsyat, pusat Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam dapat sepenuhnya dikuasai pasukan Belanda, dan mereka mendirikan benteng dengan nama Fort de Kock di sana. Dengan kekalahan pasukan Padri di Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam, maka Imam Bonjol memusatkan kekuatan kaum Padri di benteng Bonjol dan sekitarnya sambil sekaligus melakukan konsolidasi pasukan yang telah jenuh berperang selama lebih dari duapuluh tahun lamanya.
Sementara itu pada tahun 1825 di Jawa telah pecah perang Jawa. Dengan timbulnya perang Jawa ini, ke¬kuatan pasukan Belanda menjadi terpecah dua: sebagian untuk menghadapi perang Padri yang tak kunjung selesai, dan yang sebagian lagi harus menghadapi Perang Jawa yang baru muncul. Karena perang Jawa dianggap oleh Belanda lebih strategis dan dapat mengancam ek¬sistensi Belanda di Batavia, pusat pemerintahan kolonial Belanda (Hindia Belanda), maka mau tidak mau semua kekuatau militer harus dipusatkan untuk menghadapi perang Jawa.
Untuk itu perlu ditempuh satu kebijaksanaan guna mengadakan perdamaian kembali dengan kaum Padri di Sumatera Barat. Pada tahun 1825 usaha perdamaian dan gencatan senjata dengan kaum Padri berhasil dicapai, dengan jalan mengakui kedaulatan kaum Padri di be¬berapa daerah Minangkabau yang memang masih secara penuh dikuasairiya. Perjanjian damai dan gencatan senjata dipergunakan oleh Belanda untuk menarik pasukannya dari Sumatera Barat setanyak 4300 orang, dan mensisakannya hanya 700 orang saja lagi. Pasukan sisa sebanyak 700 orang serdadu itu, digunakan hanya untuk menjaga benteng dan pusat-pusat pertahanan Belanda di Sumatera Barat.
Setelah Perang Jawa selesai dan kemenangan diperoleh oleh penguasa kolonial Belanda, maka kekuatan militer Belanda di Jawa sebagian terbesar dibawa ke Sumatera Barat untuk menghadapi Perang Padri. Dengan kekuatan militer yang besar Belanda melakukan serangan ke daerah pertahanan pasukan Padri. Pada akhir tahun 1831, Katiagan kota pelabuhan yang men¬jadi pusat perdagangan kaum Padri direbut oleh pasukan Belanda. Kemudian berturut-turut Marapalam jatuh pada akhir 1831, Kapau, Kamang dan Lintau jatuh pada tahun 1832, dan Matur serta Masang dikuasai Belanda pada tahun 1834.
Kejatuhan daerah-daerah pelabuhan ke tangan Belanda mendorong kaum Padri, yang memusatkan kekuatannya di benteng Bonjol, mencari jalan jalur per¬dagangan melalui sungai Rokan, Kampar Kiri dan Kampar Kanan, di mana sebuah anak sungai Kampar kanan dapat dilayari sampai dekat Bonjol. Hubungan Bonjol ke timur melalui anak sungai tersebut sampai ke Pelalawan, dan dari sana bisa terus ke Penang dan Singapura, dapat dikuasai. Tetapi jalur pelayaran ini, pada akhir tahun 1834 dapat direbut oleh Belanda. Dengan demikian posisi pasukan Padri yang berpusat di benteng Bonjol mendapat kesulitan, terutama dalam memperoleh suplai bahan makanan dan persenjataan.
Kemenangan yang gilang-gemilang diperoleh pasukan Belanda menimbulkan kecemasan para golong¬an penghulu, yang selama ini telah membantunya. Kekuasaan yang diharapkan para penghulu dapat di¬pegangnya kembali, ternyata setelah kemenangan Belanda menjadi buyar. Sikap sombong dan moral yang bejat yang dipertontonkan oleh pasukan Belanda-¬Kristen, seperti menjadikan masjid sebagai tempat asrama militer dan tempat minum-minuman keras, mengusir rakyat kecil dari rumah-rumah mereka, pembantaian massal, pemerkosaan terhadap wanita-¬wanita, memanjakan orang-orang Cina dengan memberi kesempatan menguasai perekonomian rakyat, akhirnya menimbulkan rasa benci dan tak puas dari golongan penghulu kepada Belanda. Kebencian dan kemarahan para penghulu menumbuhkan rasa harga diri untuk mengusir Belanda dari daerah Minangkabau untuk me¬lakukan perlawanan terhadap Belanda secara sendirian tidak mampu, karenanya perlu adanya kerjasama dengan kaum Padri.
Uluran tangan golongan penghulu disambut baik oleh kaum Padri. Perjanjian kerjasama dan ikrar antara golongan penghulu dengan kaum Padri untuk mengusir Belanda, dari tanah Minangkabau dilaksanakan pada akhir tahun 1832 bertempat di lereng gunung Tandikat. Gerakan perlawanan rakyat Sumatera Barat terhadap Belanda dipimpin langsung oleh Imam Bonjol.



Gerakan perlawanan rakyat Sumatera Barat terhadap Belanda dipimpin oleh Imam Bonjol

Dalam perjanjian dan ikrar rahasia di lereng gunung Tandikat itu, telah ditetapkan bahwa tanggal 11 Januari 1833, kaum Padri dan golongan penghulu beserta rakyat Sumatera Barat secara serentak melakukan serangan kepada pasukan Belanda. Awal serangan rakyat Minangkabau ini terhadap pasukan Belanda banyak mengalami kemenangan, terutama di daerah sekitar benteng Bonjol, di mana pasukan Belanda ditempatkan untuk melakukan blokade. Pasukan Belanda yang langsung dipimpin oleh Letnan Kolonel Vermeulen Krieger, pimpinan tertinggi militer di Sumatera Barat, di daerah Sipisang diporak-porandakan oleh pasukan Padri, sehingga, banyak sekali serdadu Belanda yang mati terbunuh. Hanya Letnan Kolonel Vermeulen Krieger dan beberapa orang anak buahnya yang dapat menyelamatkan diri dari pembunuhan itu. Karena semua jalan terputus maka terpaksa Letnan Kolonel Vermeulen Krieger dengan anak buahnya yang tinggal beberapa orang itu menempuh jalan hutan belantara untuk bisa kembali ke Bukittinggi.
Apabila di daerah Alahan Panjang, serangan secara serentak dapat dilakukan oleh rakyat Minangkabau dan berhasil memukul mundur pasukan Belanda, tetapi di Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam, serangan itu tidak dapat dilaksanakan. Faktor penyebabnya ialah banyak daerah-daerah di sini belum menerima informasi dari hasil Ikrar Tandikat; disamping banyak daerah-daerah strategis yang dikuasai Belanda. Bahkan ada juga informasi ikrar ini jatuh ke tangan Belanda, sehingga orang-orang yang dicurigai segera ditangkap. Di samping itu memang masih banyak para penghulu atau kepala adat yang tetap setia kepada Belanda.
Timbulnya perlawanan serentak dari seluruh rakyat Minangkabau, sebagai realisasi ikrar Tandikat, memaksa Gubernur Jenderal Van den Bosch pergi ke Padang pada tanggal 23 Agustus 1833, untuk melihat dari dekat tentang jalannya operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda. Sesampainya di Padang, ia melakukan perundingan dengan Jenderal Riesz dan Letnan Kolonel Elout untuk segera menaklukkan benteng Bonjol, yang dijadikan pusat meriam besar pasukan Padri, Riesz dan Elout menerangkan bahwa belum datang saatnya yang baik untuk mengadakan serangan umum terhadap benteng Bonjol, karena kesetiaan penduduk Agam masih disangsikan, dan mereka sangat mungkin kelak me¬nyerang pasukan Belanda dari belakang. Tetapi Jenderal Van den Bosch bersikeras untuk segera menaklukkan benteng Bonjol, dan paling lambat tanggal 10 september 1853 Bonjol harus jatuh. Kedua opsir tersebut meminta tangguh enam hari lagi, sehingga jatuhnya Bonjol diharapkan pada tanggal 16 September 1833.
Meskipun demikian, kedua opsir tersebut belum yakin dapat melaksanakan rencana yang telah diputuskannya, sebab besar sekali kesulitan-kesulitan yang harus dihadapinya. Pertama, karena mereka harus rnengerahkan tiga kolone: satu kolonne harus menyerang Bonjol dengan melalui Suliki dan Puar Datar di Luhak Lima Puluh Kota, dan satu kolonne dari Padang Hilir melalui Manggopoh dan Luhak Ambalau, dan kolonne ketiga dari Ram melalui Lubuk Sikaping. Dan disamping itu harus disiapkan pula satu kolonne yang pura-pura menyerang Padri di daerah Matur, supaya pasukan Padri mengerahkan pasukannya ke sana. Sebelum pasukan menyerbu ke Bonjol, kolonne-kolonne itu harus mampu menundukkan dan menaklukkan daerah-daerah di sekelilingnya, dan merusakkan semua pertahanan rakyat di Luhak Agam.
Rakyat Padang Datar umumnya marah betul kepada tentara Belanda, karena melihat kekejaman dan kesadisannya di Guguk Sigadang; dan rasa benci kepada kaki-tangan Belanda yang bersifat sewenang-wenang serta mencurigai dan menangkap rakyat awam.
Sementara itu, Mayor de Quay mengutus Tuanku Muda Halaban untuk membujuk Imam Bonjol supaya suka berunding dan berdamai dengan Belanda. Imam Bonjol menyatakan kepada Tuanku Muda Halaban, bahwa ia bersedia berunding di suatu tempat yang telah ditetap¬kan. Akhirnya perundingan itu dapat dilaksanakan.
Dalam kesempatan perundingan ini, tenggang waktu yang tersedia itu digunakan dengan sebaik-baiknya oleh Belanda untuk menyiapkan pasukannya, di samping diharapkan pasukan Padri menjadi lengah. Untuk memudahkan mencapai Bonjol, maka Mayor de Quay mengerahkan pasukannya yang dibantu oleh 1500 penduduk dari Lima Puluh Kota untuk membuat jalan melalui hutan-hutan lebat, yang membatasi Luhak Lima Puluh Kota dengan Lembah Alahan Panjang.
Pasukan Padri ternyata tidak lengah untuk terus mengamat-amati semua persiapan tentara Belanda itu, sehingga. semua jalan masuk ke Lambah Alahan Panjang ditutupnya dengan pelbagai rintangan, dikiri kanan jalan dipersiapkan kubu-kubu pertahanan.
Di satu bukit, di tepi jalan ke Tujuh Kota, di dekat Batu Pelupuh, di puncaknya yang kerap kali ditutupi kabut dan awan, dibuat oleh pasukan Padri sebuah kubu pertahanan. Dari sini dapat diperhatikan segala gerak-gerik pasukan Belanda dari jarak jauh. Kubu pertahanan pasukan Padri yang strategis ini diketahui, oleh Belanda. Karenanya pada tanggal 10 September 1833, Jenderal Riesz mengerahkan rakyat Agam yang setia kepada Belanda untuk menaklukkan kubu tersebut. Usaha penaklukan kubu ini gagal total, dimana sebagian besar pasukan rakyat Agam mati dan luka-luka, dan memaksa mereka kembali ke Bukittinggi.
Besok paginya, yakni tanggal 11 September 1833, Belanda mengerahkan 200 orang tentaranya yang di¬lengkapi dengan meriam dan diperkuat oleh pasukan golongan adat dari Batipuh dan Agam. Pada Jam 05.00 pagi pasukan Belanda telah dapat mendaki bukit per¬tahanan pasukan Padri. Tetapi kira-kira 150 langkah mendekati kubu pertahanan, dengan sekonyong-konyong pasukan Padri mendahului menyerang pasukan Belanda. Pertempuran sengit terjadi, diantara kedua belah pihak banyak korban berjatuhan. Tetapi karena kekuatan yang tak seimbang, akhirnya pasukan Padri mengundurkan diri turun ke desa Batu Pelupuh dan bertahan di belakang pematang-pematang sawah. Belanda mengerahkan pasukannya untuk mengejarnya, dengan sangat cerdik pasukan Padri bersembunyi ke hutan-hutan lebat yang sulit untuk dikejar oleh pasukan Belanda. Desa Batu Pelupuh dan tujuh desa lainnya yang ditinggalkan pasukan Padri habis dirampok dan dibumi-hanguskan oleh pasukan Belanda. Walaupun pasukan Padri kalah, tetapi di pihak Belandapun banyak sekali yang mati dan luka-luka; dan dengan susah payah mereka dapat kembali ke Bukittinggi.
Setelah kubu pertahanan di bukit dekat Alahan Panjang dapat direbut pasukan Belanda, maka Jenderal Riesz memusatkan serangan tipuan ke Matur. Sebagian pasukannya diharuskan menduduki daerah Pantar, sebuah desa yang letaknya di seberang jurang dekat kubu pertahanan pasukan Padri. Pasukan Belanda ini dibantu oleh pasukan ada 600 orang dari Batipuh, 400 orang dari Banuhampu, 300 orang dari Sungai Puar, 340 orang dari Empat Kota, 604 orang dari Ampat Angkat, dan 240 ¬orang dari Tambangan; seluruhnya berjumlah 2400 orang. Tetapi sebelum tentara Belanda datang di Pantar, pada pagi-pagi sekali tanggal 12 September 1833, desa tersebut telah dibumi-hanguskan oleh pasukan Padri. Di selatan Pantar yang telah menjadi lautan api, Belanda membuat kubu pertahanan untuk menahan serangan¬-serangan pasukan Padri. Tetapi pasukan Padri pun me¬ngerti bahwa serangan pasukan Belanda ini hanya merupakan pancingan, karenanya mereka tetap bertahan di kubu-kubu pertahanan mereka masing-masing.
Sementara itu pasukan Padri memperkuat Kota Lalang guna menaban tentara Belanda yang datang dari arah Suliki yang dipimpin oleh Mayor de Quay. Pada tanggal 13 September 1833 pasukan Belanda telah dihadang oleh pasukan rakyat dari Tanah Datar, sehingga perjalanannya terhambat. Dan baru pada tanggal 14 ¬September 1833 tentara Belanda melanjutkan serangan¬nya ke Kota Lalang, yang dipertahankan dengan gigih oleh pasukan Padri. Tentara Belanda banyak yang mati dan luka-luka. Pertempuran berlangsung siang-malam dengan dahsyatnya, yang masing-masing pihak me¬ngerahkan semua kekuatannya. Karena kekuatan pasukan Padri yang jauh lebih kecil dan lebih sederhana persenjataannya, akhirnya mengundurkan diri ke hutan belantara yang sulit dikejar oleh tentara Belanda.
Kota Lalang yang ditinggalkan pasukan Padri dijaga oleh pasukan Jawa dan Adat; dan tentara Belanda yang dibantu oleh ratusan pasukan adat dari Batipuh dan Lima Puluh Kota meneruskan penyerbuannya menuju Bonjol. Dalam perjalanan yang sulit ini pasukan Belanda senantiasa terjebak dengan serangan pasukan Padri dari belakang yang bersembunyi di hutan lebat.
Serangan gerilya pasukan Padri dengan taktik “serang dengan tiba-tiba dan lenyap secara tiba-tiba”, me¬nimbulkan kerugian yang besar bagi pasukan Belanda; dan karenanya menimbulkan rasa takut bagi pasukan-pasukan adat yang membantunya. Dengan diam-diam pasukan adat meninggalkan pasukan Belanda, sehingga menyulitkan pasukannya untuk melanjutkan penyerbu¬an. Hujan yang turun terus-menerus menambah ke¬sulitan lagi bagi pasukan Belanda, selain pasukan yang basah kuyup hampir mati kedinginan, juga pasukan pembawa makanan dan perlengkapan perang yang terdiri dari pribumi, banyak yang tak tahan dan akhirnya melarikan diri. .
Dengan sisa-sisa kekuatan, pasukan Belanda sampai memasuki lembah Air Papa. Di lembah ini, yang sisi-sisi tebingnya cukup curam, digunakan oleh pasukan Padri sebagai kubu pertahanan dengan mudah menembak pasukan Belanda yang berada di bawah lembah. Dalam posisi yang demikian, terpaksa pasukan Belanda memusatkan pasukannya di lembah yang agak gersang, yang jauh dari jangkauan pasukan Padri. Daerah terbuka yang digunakan pasukan Belanda memudahkan serangan bagi Pasukan Padri. Kelemahan ini benar-benar digunakan oleh pasukan Padri. Serangan yang datang dengan tiba-tiba, menyebabkan timbulnya kepanikan di kalangan pasukan Belanda, dimana akhirnya tidak ada jalan lain kecuali mengundurkan diri dan membatalkan rencana penyerbuan selanjutnya. Dengan diam-diam pasukan Belanda pada malam hari mening¬galkan medan pertempuran kembali ke Payakumbuh, dengan meninggalkan korban yang mati maupun yang luka-luka banyak sekali.
Dari front barat, pasukan Padri telah mengetahuinya bahwa tentara Belanda akan menyerang dari Manggopoh. Rakyat yang tinggal di sekitar Manggopoh seperti Bukit Maninjau dan Lubuk Ambalau diyakinkan dan diancam oleh pasukan Padri untuk tidak membantu pasukan Belanda.
Kolonne Belanda yang menyerang dari jurusan Manggopoh itu dipimpin oleh Letnan Kolonel Elout. Mereka berangkat ke Tapian Kandi tanggal 11 September 1835. Di daerah ini saja pasukan Belanda telah men¬dapat perlawanan pasukan Padri yang cukup sengit, hanya karena tembakan meriam yang bertubi-tubi pasukan Padri terpaksa mundur ke daerah Pangkalan. Pasukan Belanda terus mendesak pasukan Padri di Pangkalan; pertempuran sengit terjadi hampir tiap langkah dari perjalanan pasukan maju Belanda. Hanya dengan pengorbanan yang besar pasukan Padri dapat dipukul mundur dan pasukan Belanda dapat sampai di Kota Gedang.
Dari dataran tinggi Kota Gedang ini ada dua jalan; yaitu ke utara menuju Bonjol dengan melalui Tarantang Tunggang, dan ke timur menuju XII Kota. Letnan Kolonel Elout pergi ke Tanjung untuk bertemu dengan Tuanku nan Tinggi dari Sungai Puar guna mendapat petunjuk jalan yang terbaik untuk mencapai Bonjol. Tuanku dari Sungai Puar memberi petunjuk jangan pergi ke Bonjol melalui XII Kota, karena rakyat di sana pasti akan menghambatnya. Karenanya ia kembali ke Kota Gedang, tetapi gudang perbekalan pasukan Belanda yang dikawal tidak begitu kuat disaat ditinggalkan telah habis dibakar oleh rakyat. Dalam kondisi seperti ini, Letnan Kolonel Elout sebagai komandan pasukan Belanda dari sektor barat memutuskan untuk mengundurkan diri.ke Kota Merapak. Gerakan mundur pasukan Belanda diketahui oleh pasukan Padri, kesempatan dan peluang ini digunakan sebaik-baiknya untuk melakukan pengejaran, dengan taktik gerilya.
Serangan gerilya yang dilakukan pasukan Padri berhasil dengan gemilang bukan saja ratusan tentara Belanda dan pasukan adat yang mati terbunuh, tetapi juga hampir semua perlengkapan perang seperti meriam dan perbekalan semuanya dapat dirampas. Pasukan Belanda hanya dapat membawa senjata dan pakaian yang melekat di tangan dan badannya.
Kolonne ketiga dari pasukan Belanda yang datang dari jurusan utara melalui Rao dipimpin oleb Mayor Eilers. Pasukan Eilers yang memang tidak begitu kuat, diberikan kelonggaran, jika pasukannya tidak mampu melawan pasukan Padri di sebelah utara Alahan Panjang, ia boleh maju hanya sampi Lubuk Sikaping saja. Di sini pasukannya harus bertahan sambil menunggu informasi kolonne yang lain, yang menyerang dari timur dan barat daerah Bonjol. Sambil menunggu berita dari kolonne-kolonne yang lain, Mayor Eilers menghimpun pasukan dari kepala-kepala adat dari Tuanku Yang Dipertuan di Rao dan Mandahiling untuk memperkuat pasukannya yang hanya terdiri ‘atas 80 orang serdadu. Usahanya berhasil dengan 1000 orang Rao, 400 orang Mandahiling dan 500 orang Batak lainnya. Dengan kekuatan sekitar 2000 orang; Mayor Eilers maju menuju Bonjol. Sepanjang perjalanan pasukan Belanda mendapat perlawanan sengit dari pasukan Padri, baik dalam bentuk serangan gerilya maupun pertempuran frontal dari benteng ke benteng.
Pada tanggal 18 September 1833 pasukan Belanda telah sampai di Alai, kira-kira dua kilometer dari benteng Bonjol. Di sini pasukan Belanda telah mendapat per¬lawanan yang luar biasa oleh pasukan Padri, pertempuran sudah sampai satu lawan satu. Akibatnya korban di pihak pasukan Belanda banyak sekali baik yang mati maupun luka-luka. Untuk menghindari korban yang lebih banyak, akhirnya-pasukan Belanda mengundurkan diri ke Bonjol Hitam. Pengunduran diri pasukan Belanda ini diikuti terus dengan serangan-serangan pasukan Padri, baik siang maupun malam hari.
Karena terancam oleh kehancuran total, disamping ternyata dua kolonne dari timur maupun barat telah mengundurkan diri, maka Mayor Eilers, pada tanggal 19 September 1833 memutuskan untuk mengundurkan diri, kembali ke pangkalan. Agar selamat dari sergapan pasukan Padri di tengah jalan, pengunduran diri harus dilakukan tengah malam.
Pada saat maghrib tiba, disaat tentara Belanda sedang sibuk berkemas-kemas untuk melarikan diri, tiba-tiba menjadi panik, karena pasukan Padri menyerbu dengan cepat dan keras. Pasukan Rao dan Mandahiling berhamburan keluar mencari selamat dengan meninggalkan segala persenjataan dan perlengkapannya. Tentara Belanda juga tak mampu menguasi keadaan dan bahkan turut lari tanpa menghiraukan teriakan komandannya Mayor Eilers. Keadaan panik dan kacau, menyebabkan pasukan Belanda. meninggalkan begitu saja meriam dan granat-granat serta senjata-senjata lainnya. Bahkan pasukan yang luka parah sebanyak 50 orang ditinggalkan begitu saja, sampai mati terbunuh semuanya. Hanya dengan susah payah, sisa-sisa pasukan Belanda pada tanggal 20 September 1835, baru dapat selamat ke pangkalan.
Pengunduran diri pasukan Belanda adalah atas per¬setujuan Jenderal Van den Bosch; karenanya ia datang sendiri ke Guguk Sigandang untuk menerima pasukan-pasukan yang kalah itu. Dihadapan pasukannya, Jenderal Van den Bosch berucap: “Bila keadaan memang tidak mengizinkan, dan kesulitan begitu besar, sehingga sulit diatasi, pasukan boleh ditarik mundur; menunggu waktu yang tepat. Tetapi bagaimanapun Bonjol harus ditaklukkan”.
Pada tanggal 21 september 1833, Jenderal Van den Bosch memberi laporan ke Batavia bahwa penyerangan ke Bonjol gagal dan sedang diusahakan untuk konsolidasi guna penyerangan selanjutnya.
Selama tahun 1834 tidak ada usaha yang sungguh-sungguh yang dilakukan oleh pasukan Belanda untuk menaklukkan Bonjol, markas besar pasukan Padri, kecuali pertempuran kecil-kecilan untuk membersihkan daerah-daerah yang dekat dengan pusat pertahanan dan benteng Belanda. Selain itu pembuatan jalan dan jembatan, yang mengarah ke jurusan Bonjol terus dilakukan dengan giat, dengan mengerahkan ribuan tenaga kerja paksa. Pembuatan jalan dan jembatan itu dipersiapkan untuk memudahkan mobilitas pasukan Belanda dalam gerakannya menghancurkan Bonjol.
Baru pada tanggal 16 April 1835, pasukan Belanda memutuskan untuk mengadakan serangan besar-besaran untuk menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. Operasi militer dimulai pada tanggal 21 April 1835, dimana dua kolonne pasukan Belanda yang berkumpul di Matur dan Bamban, bergerak menuju Masang. Meskipun sungai itu banjir, mereka menyeberangi juga dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba; mendaki gunung dan menuruni lembah; guna meghindarkan dari kubu-kubu pertahanan Padri yang dipasang disekitar tepi jalan.
Pada tanggal 23 April 1835 pasukan Belanda telah sampai di tepi sungai Batang Ganting, terus menyeberang dan kemudian berkumpul di Batu Sari. Dari sini hanya ada satu jalan sempit menuju Sipisang, daerah yang dikuasai oleh pasukan Padri. Jalan sepanjang menuju Sipisang dipertahankan oleh pasukan Padri dengan pimpinan Datuk Baginda Kali. Serangan-serangan pasukan Padri untuk menghambat laju pasukan Belanda memang cukup merepotkan dan melelahkan, tetapi tidak berhasil menahan secara total.
Sesampainya di Sipisang, pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri berjalan sangat kejam, tiga hari tiga malam pertempuran berlangsung tanpa henti, sampai korban di kedua belah pihak banyak yang jatuh. Hanya karena kekuatan yang jauh tak sebanding, pasukan Padri terpaksa mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba dan menyeberangi kali. Jatuhnya daerah Sipisang, dijadikan oleh pasukan Belanda untuk kubu pertahanannya, sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol.
Selain itu, satu kolonne pasukan Belanda pada tanggal 24 April 1835 berangkat menuju daerah Simawang Gedang, yaitu daerah yang dikuasai pasukan Padri. Dengan kekuatan hanya 500 orang pasukan Padri mencoba menahan tentara Belanda yang jumlah dan kekuatannya jauh lebih besar. Pertempuran dahsyat tak terhindari lagi, berjalan alot; walau akhirnya pasukan Padri mengundurkan diri.
Satu kompi pasukan tentara Bugis yang dibantu oleh pasukan adat dari Batipuh dan Tanah Datar bertugas untuk mengusir pasukan Padri yang berada di luar daerah Simawang Gadang. Bahkan pasukan Bugis bersama-sama pasukan adat Batipuh dan Tanah Datar berhasil mendesak pasukan Padri sampai ke Batang Kumpulan. Tetapi disini telah menunggu 1200 orang pasukan Padri untuk menghadang gerakan maju pasukan Belanda. Usaha ofensi pasukan Belanda yang terdiri dari pasukan Bugis, Batipuh dan Tanah Datar diporak-porandakan oleh pasukan Padri, hampir-hampir sebagian terbesar mati terbunuh.
Kalaulah tidak segera bala bantuan pasukan Belanda datang dengan cepat dan dalam jumlah besar, dapat diduga bahwa pasukan Belanda yang terdepan itu akan musnah seluruhnya. Datangnya bala bantuan pasukan Belanda bukan dapat menyelamatkan sisa-sisa pasukanriya yang telah cerai-berai; tetapi juga mampu mendesak pasukan Padri, sehingga daerah Kampung Melayu yang menjadi ajang pertempuran dapat dikuasai oleh Belanda.
Kampung Melayu terletak di tepi sebatang sungai kecil, Air Taras namanya. Tidak berapa jauh ke hilir sungai itu bertemu dengan sungai Batang Alahan Panjang. Kampung Melayu tersembunyi di dalam sebuah lembah yang dilingkari oleh bukit-bukit tinggi yang terjal.
Pasukan Padri yang mengundurkan diri dari daerah Kampung Melayu, bersembunyi di bukit-bukit terjal dengan kubu-kubu pertahanan yang tersembunyi, untuk menjepit pasukan Belanda yang ada di Air Taras. Pada tanggal 27 April 1835, pasukan Belanda mencoba menyerang pasukan Padri yang berada di bukit-bukit terjal itu; tetapi hasilnya nihil, bahkan puluhan tentaranya yang mati dan luka-luka.
Selama tiga hari pasukan Belanda melakukan konsolidasi dengan menambah pasukannya. Baru pada tanggal 3 Mei 1835 operasi militer dapat dilanjutkan. Tetapi, baru saja dimulai, Letnan Kolonel Bauer komandan pasukan Belanda telah terluka kena ranjau. Di saat pasukan Belanda menyeberangi sungai Air Taras di¬serang oleh pasukan Padri, sehingga banyak pasukan¬nya yang tenggelam dan mati, karena senjata yang digunakan macet terendam air. Pertempuran kemudian berkembang menjadi perang tanding, yang tentunya menguntungkan pasukan Padri. Tetapi karena pasukan Belanda jauh lebih besar, akhirnya pasukan Padri terdesak dan meninggalkan kubu-kubu pertahanan yang ada di bukit-bukit terjal itu. Kemajuan yang diperoleh pasukan Belanda di daerah ini tidak langgeng karena tidak berapa lama pasukan Padri datang menyerang dengan kekuatan sekitar 500 orang.
Karena merasa daerah ini kurang aman, maka pasukan Belanda sebelum meninggalkannya telah melakukan perampokan dan pembakaran rumah-rumah penduduk dan ladang-ladang, sehingga menjadi daerah yang hangus terbakar.
Laju pasukan Belanda menuju Bonjol sangat lamban, hampir sebulan waktu yang diperlukan untuk bisa mendekati daerah Alahan Panjang. Front terdepan dari Alahan Panjang adalah Padang Lawas, yang secara penuh dikuasai oleh Pasukan Padri. Pada tanggal 8 Juni 1855 pasukan Belanda yang mencoba maju ke front Padang Lawas dihambat dengan, pertempuran sengit oleh pasukan Padri. Hanya dengan pasukan yang besar dan kuat persenjataannya dapat memukul mundur pasukan Padri, dan menguasai front Padang Lawas.
Pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda menuju sebelah timur sungai Alahan Panjang, sedangkan pasukan Padri berada di seberangnya pasukan musuh yang bersembunyi di benteng-benteng partahanannya senantiasa mendapat serangan gerilya dari pasukan Padri, sehingga selama lima hari-lima malam, pasukan musuh tidak dapat maju dan bahkan kehilangan 7 orang serdadunya mati dan 84 orang luka-luka.
Kampung Bonjol kira-kira 1200 hasta panjangnya dan 400 sampai 700 hasta lebarnya, sebab bagian selatan dari dinding barat mundur kira-kira 200 hasta ke belakang. Letak kampung ini antara 1000 atau 1200 hasta dari tepi timur suang Batang Alahan Panjang. Di timur dan tenggaranya terdapat tebing terjal dan sebuah bukit yang tegak hampir lurus keatas, yang dengan Bonjol dipisahkan oleh sebatang anak sungai kecil. Bukit ini Tajadi namanya, menguasai lapangan di setelah barat dan timurnya.Di atas bukit ini pasukan Padri mem¬buat beberapa kubu pertahanan yang kuat dan baik letaknya, dan dari sana mereka menembakkan meriam yang bermacam kaliber kepada musuh di seberang barat Alahan Panjang.
Di kampung itu banyak rumah yang terbuat dari kayu, yang sebagian besar dinaungi oleh hutan bambu, pohon-pohon kelapa dan pohon buah-buahan. Di sebelah barat dan utara kampung Bonjol terbentang sawah luas.
Di sebelah timur Bonjol membujur bukit barisan tinggi membujur, yang diselimuti oleh hutan lehat. Di balik timur bukit barisan itulah terletak tanah Lima Puluh Kota. Tanah di sebelah selatan dan tenggara Lambah Alahan Panjang ini bergunung-gunung dan ber¬bukit batu yang benjal-benjol. Keadaan alam ini diper¬gunakan oleh pasukan Padri sebagai benteng pertahanan yang paling besar dan menjadi markas besar Imam Bonjol. Pada umumnya, semak, belukar dan hutan yang sangat tebal di sekitar Bonjol ini, sehingga kubu-kubu pertahanan pasukan Padri tidak mudah dilihat dari luar. Di tengah lembah mengalir dan berliku-liku sungai Batang Alahan Panjang dari utara ke selatan.
Pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835 pasukan Belanda membuat kubu pertahanan yang kira-kira hanya 250 langkah dari Bonjol. Dengan meriggunakan houwitser, mortir dan meriam besar, menemhaki benteng Bonjol, yang dibalas kontan oleh meriam-meriam pasukan Padri yang berada di bukit Tajadi. Karena posisi yang kurang menguntungkan pasukan musuh maka banyak pasukannya yang mati dan terluka, oleh karena itu Letnan Kolonel Bauer meminta kepada Residen Francis untuk memberikan bala bantuan sebanyak 2000 orang lagi. Dan pada tanggal 17 Juni 1835 bala bantuan itu datang. Pada tanggal 21 Juni 1835, dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu Bonjol. Sebelum pasukan musuh sampai pada sasaran terakhir, di kampung Jambak dan Kota mendapat perlawanan yang sengit dari pasukan rakyat dan Padri.
Di Bonjol yang merupakan markas besar pasukan Padri telah berkumpul komandan-komandan pasukan Padri yang datang dari daerah-daerah yang telah ditaklukkan pasukan Belanda, yaitu dari Tanah Datar, Lintau, Bua, Lima Puluh Kuta, Agam, Rao dan Padang Hilir. Semua bertekad bulat untuk mempertahankan markas besar Bonjol sampai titik darah penghabisan, hidup mulia atau mati syahid.
Melihat kokohnya benteng Bonjol, disamping banyak tentaranya yang mati dan luka-luka, pasukan Belanda tidak melakukan gerakan ofensif menyerang Bonjol tetapi melakukan blokade terhadap Bonjol, dengan tujuan untuk melumpuhkan suplai bahan makanan dan senjata pasukan Padri. Blokade yang dilakukan Belanda, ternyata tidak efektif, karena justru benteng-benteng pertahanan pasukan musuh dan bahan perbekalannya yang banyak diserang oleh pasukan gerilya Padri yang memang berada di belakang pasukan musuh.
Usaha untuk melakukan serangan ofensif terhadap Bonjol masih menunggu bala bantuan tentara, walau di sekitar Bonjol pasukan Belanda telah berkumpul, pada awal Agustus 1835, sekitar 14.000 orang. Baru setelah datang bala bantuan tentara Belanda yang terdiri dari pasukan Bugis; pada pertengahan Agustus 1835 penyerangan dilakukan terhadap kubu-kubu pertahanan pasukan Padri yang berada di bukit Tajadi. Satu persatu kubu-kubu pertahanan strategis pasukan Padri ini jatuh ke tangan pasukan musuh.
Pada tanggal 5 September 1835 pasukan Bonjol menyerbu ke luar benteng menghancurkan kubu-kubu pertahahan musuh yang dibuat sekitar benteng. Dengan keberanian yang luar biasa pasukan Padri menyerang benteng-benteng Belanda, yang banyak menelan korban di kedua belah pihak. Setelah serangan dilakukan, pasukan Padri segera masuk kembali ke dalam benteng.
Sementara itu pasukan Belanda yang berada di Puar Datar diperintahkan oleh Letnan Kolonel Bauer maju menuju Bonjol. Dalam perjalanannya pasukan Belanda ini harus melalui desa Talang. Sesampainya di sini pasukan Padri yang dibantu oleh rakyat melakukan perlawanan yang sengit, sehingga memaksa pasukan musuh kembali ke Air Papa dan terus ke Puar Datar. Usaha mendatangkan bantuan untuk menyerang Bonjol dari jurusan Luhak Lima Puluh Kota gagal.
Kegagalan menyerang Bonjol dari jurusan Luhak Lima puluh Kota, pada tanggal 9 September 1835, serangan ditempuh melalui Padang Bubus. Hasilnya sama, gagal, bahkan pasukan Belanda banyak yang mati dan luka-luka. Dan Letnan Kolonel Bauer yang menderita sakit, terpaksa dikirim ke Bukittinggi dan digantikan oleh Mayor Prager.
Kebijaksanaan Mayor Prager tidak melakukan serangan ofensif ke Bonjol sampai datangnya bala bantuan baru dari markas besarnya di Bukittinggi. Dalam kesempatan yang terluang ini, pasukan Padri melakukan serangan gerilya terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda, memusnahkan gudang-gudang perbekalan dan gudang mesiu bukan saja daerah di sekitar Bonjol, tetapi sampai jauh menyelinap ke Kumpulan, Sirnawang Gadang dan Puar Datar.
Blokade yang berlarut-larut, menimbulkan ke¬beranian rakyat untuk memberontak terhadap pasukan Belanda, sehingga pada tanggal ll Desember 1835 rakyat desa Alahan Mati dan Simpang mengangkat senjata kembali. Tentara Belanda tak mampu mengatasi pemberontakan rakyat desa-desa ini, sehingga men¬datangkan pasukan bantuan dari serdadu-serdadu Madura. Hanya dengan bantuan pasukan Madura, Belanda dapat memadamkan pemberontakan ini. Di desa Kumpulan juga terjadi peristiwa yang sama, yaitu pemberontakan terhadap pasukan musuh.
Gerakan maju pasukan Belanda menyerbu benteng Bonjol yang tinggal beberapa ratus kilometer, dalam tiga bulan ini, hampir-hampir tidak mengalami kemajuan yang berarti, malah sebaliknya daerah-daerah yang telah ditaklukkan kembali pemberontak; dan tidak sedikit menimbulkan korban bagi pasukan musuh. Sambil menunggu bala bantuan dari Batavia, Belanda mencoba melakukan perundingan dengan pasukan Padri. Perundingan, yang sebenarnya hanya untuk mengulur-ulur waktu saja, ternyata ditolak oleh Imam
Bonjol. Peluang waktu ini dipergunakan oleh Imam Bonjol untuk membangkitkan rakyat yang tinggal di garis belakang pasukan musuh untuk berontak..
Setelah kegagalan perundingan ini, dan tambahan pasukan dari Batavia telah tiba, maka pada tanggal 3 Desember 1836, pasukan Belanda melakukan serangan besar-besaran terhadap benteng Bonjol, sebagai pukulan terakhir penaklukkan Bonjol. Serangan dahsyat mampu menjebol sebagian benteng Bonjol, sehingga pasukan Belanda masuk menyerbu dan berhasil membunuh putera serta keluarga Imam Bonjol. Tetapi serangan balik pasukan Bonjol (Padri) mampu memporak-porandakan musuh sehingga terusir keluar benteng dengan me¬ninggalkan banyak sekali korban.
Kegagalan penaklukkan benteng Bonjol sekarang ini benar-benar memukul kebijaksanaan Gubernur Jenderal ¬Hindia Belanda di Batavia. Oleh karena itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengirimkan panglima ter¬tingginya Mayor Jenderal Coclius ke Bukittinggi untuk memimpin langsung serangan ke benteng Bonjol untuk kesekian kalinya. Dengan mengunakan pasukan artileri yang bersenjatakan meriam-meriam besar untuk mem¬boboIkan benteng; diperkuat dengan pasukan infantri dan kavaleri, pasukan Belanda meinulai lagi serangan¬nya ke benteng Bonjol.
Serangan yang bertubi-tubi dan dahsyat dengan hujan peluru meriam, masih memerlu¬kan waktu yang cukup lama, kira-kira 8 bulan lamanya. Setelah bukit Tajadi jatuh pada tanggal 15 Agustus 1837, maka pada tanggal 16 Agustus 1837 benteng Bonjol yang anggun dapat ditaklukkan. Tetapi tak ber¬hasil menangkap Imam Bonjol, karena sempat meng¬undurkan diri keluar benteng dengan pasukan Padri yang mendampinginya dan terus menuju daerah Marapak. Imam Bonjol mencoba mengadakan konsoli¬dasi terhadap pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, karena telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda, ternyata sia-sia. Hanya sedikit saja lagi pasukan yang masih siap bertempur.
Melihat kenyataan semacam ini, Imam Bonjol me¬nyerukan ke pada pasukannya yang terserak di mana-¬mana untuk kembali ke kampung halamannya masing-¬masing, untuk memulai hidup baru sebagai rakyat biasa. Dan yang memang benar-benar tak ada lagi semangat berjuang, dibenarkan untuk menyerah kepada Belanda.
Dalam pelarian dan persembunyiannya Imam Bonjol dengan pengawalnya dari hutan ke hutan, lembah dan ngarai, memang sangat melelahkan, penderitaan kurang makan, kurang tidur, sakit dan lelah mengakibatkan para pengawalnya hampir-hampir mati semuanya. Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak Imam Bonjol berunding.
Setelah dirundingkan bersama antara Imam Bonjol dan para stafnya, tawaran perundingan dari Residen Francis di terima. Daerah perundingan dipilih Pelupuh, di mana Imam Bonjol akan bertemu langsung dengan Residen Francis. Pada tanggal 28 Oktober 1837 Imam Bonjol dengan stafnya keluar dari Bukit Gadang me¬nuju Pelupuh. Sesampainya di pelupuh, bukannya pe¬rundingan yang terjadi, tetapi sepasukan Belanda telah siap menangkap Imam Bonjol dengan stafnya. Karena Imam Bonjol dan stafnya tidak membawa senjata, sesuai dengan syarat-syarat perundingan akhirnya dengan mudah pasukan Belanda menangkap Imam Bonjol dan stafnya. Dari Pelupuh Imam Bonjol di bawa ke Bukit¬tinggi dan terus ke Padang. Pada tanggal 23 Januari 1838 dipindahkan ke Cianjur, dan pada akhir tahun 1838 itu juga Imam Bonjol dipindahkan ke Ambon. Baru tanggal 19 Januari 1839 Imam Bonjol dipindahkan ke Menado. Di sini ia menemui ajalnya pada tanggal 8 Nopember 1864, setelah menjalani masa pembuangap selama 27 tahun lamanya.
Dari fakta-fakta sejarah yang terungkap di muka, terlihat dengan gamblang bahwa sejak awal timbulnya gerakan Padri sampai meletusnya Perang Padri dan tertangkapnya Imam Bonjol sebagai pemimpin Padri terbesar, adalah satu usaha perjuangan politik merebut kekuasaan guna dapat menjalankan Syari’at Islam dengan utuh dan murni. Umat Islam Sumatera Barat dengan kaum Padrinya, sama dengan Diponegoro dengan Perang Jawanya, mempunyai tujuan politik yang sama yaitu berdirinya satu negara yang melaksanakan ajaran Islam secara utuh dan konsekwen. Dengan kata lain, perjuangan Diponegoro dan Imam Bonjol mempunyai tujuan yang satu yaitu berdirinya Negara Islam.


PERANG SABIL versus PERANG SALIB
(Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis dan Belanda) oleh ABDUL QADIR DJAELANI, Penerbit: YAYASAN PENGKAJIAN ISLAM MADINAH AL-MUNAWWARAH Jakarta 1420 H / 1999 M

Perang Kamang 1908

Perang Kamang 1908 adalah perang terbuka yang meledak pada 15 Juni 1908 dan merupakan salah satu puncak dari kemelut suasana anti penjajahan rakyat Sumatera Barat dalam menentang penjajahan Belanda. Di sini akan terlihat gambar nyata dari bentuk semangat dan pengorbanan rakyat Kamang, baik kalangan adat, agama, cerdik pandai, pemuda, bahkan kaum ibu dalam menulangpunggungi perlawanan mengusir Belanda, yang dari segi politis dapat dikatakan sebagai bukti sumbangan yang pernah ditujukan kepada Bangsa Indonesia

Hal ini tercermin dari kunjungan Menko Keamanan dan Pertahanan Jendral A.H.Nasution tanggal 15 Juni 1963, yang sekaligus meresmikan Makan ahlawan Perang Kamang. Juga dari sambutan Wakil Perdana Menteri Pertama/Ketua MPRS Chairul Saleh tanggal 15 Juni 1962 dan Menteri Penerangan DR.H.Abdul Gani tanggal 15 Juni 1964.

Namun sebelum masuk pada uraian detik-detik jalannya Perang Kamang 15 Juni 1908 dalam bentuk penyerbuan besar-besaran pasukan rakyat terhadap Belanda, terlebih dahulu ada hal yang sangat penting digarisbawahi:

- Bahwa apa yang akan dikemukakan di sini, adalah semata-mata berdasarkan data dan fakta yang terkumpul, khusus yang berkaitan dengan perlawanan rakyat Kamang (Kamang Hilir sekarang)
- Bahwa dengan tujuan sengaja tidak ingin keluar dari pokok tulisan semula yaitu memproyeksikan setiap rangkaian peristiwa pada Kamang sebagai subyek sejarah, maka sasaran intinya lebih dititikberatkan, ke arah bentuk eksistensi seluruh rakyat Kamang dan pimpinanya menghadapi penjajahan.

Jadi bukan Kamang sebagai lokasi/orang dari mana saja yang mungkin ikut langsung sebagai pendukung peristiwa. Masalah ini perlu ditekankan, mengingat kelarsan Kamang mempunyai kawasan meliputi Kanagarian Kamang (sekarang Kamang Hilir), Kanagarian Surau Koto Samiak (sekarang Kamang Mudiak), Suayan dan Sungai Balantiak, dengan pusat pemerintahan kelarasan dimana seluruh aktivitas kepemimpinan lembaga adat, keagamaan dan lain-lain diatur, terletak di Tangah Kanagarian Kamang Hilir. Dengan demikian, semoga tidak akan timbul salah pengertian apalagi versi mengenai gambaran yang ingin diuraikan berikut ini:

J. Westernnenk secara berturut-turut masih berusaha mendatangi rakyat Kamang, bahkan tak terhitung lagi. Tetapi perundingan-perundingan atau lebih tepat disebut perdebatan mengenai persoalan itu ke itu juga, malah lebih menambah kebencian dan memperkukuh semangat aksi rakyat terhadap Belanda, yang pada masa itu sebenarnya sedang mengalami goncangan politik, yang rata-rata melanda negara-negara Eropah Barat.

Di samping kropos dalam tubuh sendiri, kritik sebagian kaum militan dan rakyat progresif Belanda terhadap pelaksanaan peraturan blasting di Indonesia, berangsur menjurus ke arah kampanye-kampanye kemanusiaan yang dimotori golongan liberal. Dari berbagai tuntutan yang muncul kemudian tergambar, sebagian dari masyarakat Belanda cenderung kurang setuju atas sikap pemerintah dalam menangani masalah-masalah tanah jajahan sebarang lautan, termasuk Indonesia. Semua ini sering menjadi bahan pertengkaran sengit di Parlemen Belanda dan sangat membuat pusing pemerintah. Kemudian ditambah lagi oleh pengaruh politik militerasme Jerman, yang seakan membuat seluruh Eropah Barat terpanggang dalam tungku pemanas, gelisah dan senantiasa diliputi pikiran curiga satu sama lain.

Tetapi bagi Belanda tidak mungkin lagi menarik garis politik lain di tengah suasana demikian, lebih lagi disebabkan oleh kian tajamnya gerakan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri. Di sinilah dalam keadana yang selama ini telah menukar manusia jadi hewan, dihargai sikap rakyat yang mulai menyadari kemampuan mereka yang tersembunyi untuk menghadapi segala rintangan, sehingg dengan sendirinya mulai menghargai kehormatan diri dan bangsa. Sedikit demi sedikit malah kini siap berbalik untuk menginjak-nginjak lawan.

Di Kamang, kesibukan terlihat dimana-mana. Siang dan malam merek terus memasang telinga atas setiap perkembangan yang terjadi, kemudian membicarakannya pada setiap kesempatan yang ada sebelum tiba pada kesimpulan akhir. Seluruh dusun seakan dipenuhi musik dencingan golok yang sedang diasah. Dari yang kecil sampai yang tua, laki-laki dan perempuan semuanya bermandi peluh karena mesti menggunakan seluruh tenaga untuk dapat menyelesaikan pekerjaan membuat senjata tradisional, sementara kaum ibu saling berbisik memandang bangga ke arah suami atau anak-anak mereka. Dan para pemuda pilihan terus melatih diri dengan giat, tanpa kenal lelah. Pada pokoknya masa itu suasana Kamang benar-benar dipenuhi warna perang yang kalau dituliskan satu persatu niscaya tidak akan habis-habisnya.

Namun, ada sebuah adegan yang sangat mengesankan ketika seorang anak berumur 6 tahun bertanya kepada ibunya yang saat itu sedang istirahat setelah berlatih silat di halaman masjid Taluak: “Kalau ibu dan ayah pergi berperang mati, dengan siapakah saya tinggal lagi? Sang ibu yang bernama Siti Anisah, termenung sejurus, memandang pada tubuhnya yang bermandikan keringat, kemudian pada suaminya Nan Basikek yang masih berlatih di tengah gelangang dan mengelus kepala si Anak dengan kasih sayang, seolah terbayang akan hari depan yang gelap, lalu menjawab: “Semua orang akan menjadi ayah ibumu, selagi dia membenci penjajahan.” Si anak bingung, tapi siti Anisah cepat-cepat mendekapnya, takut timbul pertentangan di dalam bathinnya. Sebutir air mata jatuh tanpa disadarinya di atas kepala si anak. Dan kemudian benar begitulah kenyataanya, dalam pertempuran 15 Juni 1908, Siti Anisah tersebut gugur sebagai Kesuma Bangsa.

Si anak yang bernama Ramaya inilah nantinya yang pada tahun 1926 tampil sebagai pemimpin pemberontakan bersejarah yang terkenal dengan “Pemberontakan Kamang 1926”. Semetnara itu Kari Mudo sebagai pelopor generasi muda, juga tidak tinggal diam. Secara berturut-turut dalam waktu berjarak lama, dia mengadakan pertemuan-pertemuan dengan pemuka masyarakat Kamang, termasuk Laras Garang Dt. Palindih, Penghulu Kepala Dt. Siri Marajo, pemimpin perlawanan Dt.Rajo Penghulu, Dt.Mangkudun, St.Pamernan dan banyak lagi yang lain-lain, bahkan pernah dihadiri oleh J.Wstennenk sendiri. Dan pada kesempatan lain dia juga berusaha memenuhi Dt. Mudo di Payakumbuh, Syekh Koto Baru, Pado Kayo di Suayan untuk meminta petuah sekaligus penangkal untuk persiapan menghadapi perperangan yang diperkirakan tidak lama lagi. Akhirnya saat ituun tiba. Tetapi apa yang menajdi penyulut perang ini, terdapat berbagai versi yang agak berbeda. Oleh karena itu kita cenderung berpegang pada Buku Pemberontakan Pajak 1908 karangan Rusli Amran.

Hari Senin pagi tanggal 15 Juni 1908, sebagai hari perlawanan paling hebat di Sumatera Barat dalam menentang sistem blasting telah diawali ketika seorang warga masyarakat Magek datang ke kantor Laras Warido dengan maksud untuk membayar blasting. Dia langsung dihadang serombongan warga setempat dan diancam akan dibunuh kalau rencana itu diteruskan juga, karena perbuatan ini terang-terangan melanggar tekad bersama untuk menentang Belanda. Mengetahui duduk masalahnya, Laras Kenagarian Magek Warido sangat marah, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia langsung berangkat ke Bukittinggi untuk melaporkan peristwia itu kepada J.Westennenk dn meminta supaya para pembangkang segera ditangkap. Hari itu juga melalui telepon, J.Westennenk menghubungi Gubernur Sumatera Barat Hecler untk mohon petunjuk mengenai tindakan yang harus diambil. Hanya sepatah kata yang dicetuskan Hecler sesuai dengan penggarisan Gubernur General Van Heutez yaitu, serbu! J.Westennenk lantas mengumpulkan 160 orang pasukan pilihan yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok.

Menjelang sore mereka segera bergerak dari Bukittinggi menuju Kamang dari tiga jurusan:

1. Pasukan pertama yang terdiri dari 30 orang, masuk dari Gadut terus menuju Pauh, dipimpin dua orang letnan yaitu Heine dan Cheriek.

2. Pasukan kedua, yang terdiri dari 80 orang serdadu dipimpin J.Westennenk bersama Kapten Lutsz, Letnan Leroux, Letnan Van Keulen, Dahler dan Aspiran Kontrolir Beeuwkes, masuk dari Tanjung Alam terus ke Tilatang.

3. Sedangkan pasukan ketiga yang berkekuatan 50 orang serdadu di bawah pimpinan Letnan Boldingh dan Letnan Schaap, masuk lewat Biaro dan terus menuju Salo.

Di sepanjang jalan terjadilah perlawanan rakyat di antaranya yang cukup hebat dalah yang dilakukan Dt.Parpatiah di Magek, dimana dalam pertempuran itu Dt. Parpatiah sendiri tewas ditembus senjata lawan. Pasukan yang masuk dari Tanjung Alam dan Gadut bertemu di Kamang Mudiak Sekarang, sedangkan yang datang dari Biaro, sesampai di Kubualah membelok ke Magek, dimana ikut pula Warido, Kepala Penghulu Tigo Lurah, Laras Banuhampu, Menteri Klas I dan seorang polisi, untuk memudian bergabung ke Kamang Mudik. Pasukan inilah yang terlihat pertempuran dengan pasukan rakyat di bawah pimpinan Dt. Parpatiah. Dalam pertempuran D. Parpatiah berhasil membunuh Laras Warido sebelum dia sendiri tewas sebagaimana di sebutkan di atas.

Pada senja hari, Belanda mulai bergerak mengepung rumah H. Abdul Manan untuk menangkapnya, karena pada masa itu mereka beranggapan, yang menjadi dalang pergolakan adalah kaum agama. Tetapi H. Abdul Manan berhasil meloloskan diri dan segera menemui Dt. Rajo Penghulu di Kamang (sekarang Kamang Hilir) untuk berkonsultasi. Akhirnya bertiga dengan Kari Mudo dan beberapa orang pemuka lainya, mereka langsung mengadakan rapat kilat untuk membahas perkembangan yang sangat kritis dan menyusun kesiagaan seluruh rakyat guna mengobarkan perang sabil.

Pukul 12.00 diterima informasi, pasukan Belanda berkumpul di suatu tempat perbatasan Kamang dan Kamang Mudik sekarang, yang bernama Kampuang Tangah, menunggu hari siang, selain dikelilinggi pesawahan yang membuat pandangan bebas ke arah jalan raya satu-satunya, juga penduduknya tidak seberapa. Ini disadari benar oleh Dt. Rajo Penghulu. Setelah ditinggal pergi H. Abdul Manan yang kembali ketempat semula, dia mulai menyiapkan pasukan tempur, Beduk, tong-tong dan puput tanduk berkumandangan di tengah malam sunyi pertanda perang bakal dimulai.

Pasukan rakyat langsung dipimpin Dt. Rajo Penghulu, terlebih dahulu berkumpul di Masjid Taluak untuk menerima penjelasan dan beberapa instruksi penting, sebelum membaginya dalam beberapa kelompok. Kelompok yang paling besar adalah yang dipimpin Khadi Abdul Gani. Setelah selesai sembahyang berjamaah, lalu ditutup dengan pekik Allahu Akbar dan Laailahillah, mereka pun berangkatlah menuju Kampung Tangah.

Jadi di sini jelaslah apa yang disebut dengan Perang Kamang itu ialah suatu pertempuran rakyat yang datang menyerbu. Realitasnya memang begitu dan tidak mungkin diubah-ubah lagi. Kembali kepada pasukan rakyat yang meninggalkan Masjid Taluak menurut catatan yang diperoleh dari berabagai sumber yang dapat dipercaya dan sampai tulisan ini disusun masih hidup, bahkan ikut dalam pertempuran itu, menyebutkan sesampai mereka di Kampuang Tangah, mereka segera bersembunyi di rumpun padi yang sedang menguning sambil merayap mendekati pasukan Belanda.
J.Westennenk dari tempatnya berdiri dengan pasukannya, di antara remang-remang malam telah melihat semua ini, bahkan juga sudah mengenal bayangan Dt. Rajo Penghulu bersama dengan pemimpin lainya. Tetapi dia masih belum mau bertindak karena dia masih punya harapan untuk membujuk rakyat. Lantas dia berteriak menyuruh supaya pasukan rakyat pulang kembali mengingat kekuatan kompeni cukup banyak dengan personil dan senjatanya. Dia juga mengingatkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, sekiranya pasukan rakyat masih bermakud terus maju. Tetapi seruan itu segera pula dijawab Dt.Rajo Penghulu, pasukan rakyat tidak akan mundur setapakpun dan bersedia mati syahid.

Dalam kesimpulan salah satu laporan resmi J.Westennenk kepada Gubernur Jendral Ven Heutsz di Batavia melalui surat kawat tanggal 17 Juni 1908, disusul laporan pada Gubernur Sumatera Barat Heckler No.1012 tanggal 25 Juni 1908, dia melukiskan suasana malam itu, seumpama satu malam dimana jurang antara ras manusia dengan segala kekuasaanya, sudah tidak ada lagi. Yang ada, cuma kelompok kemarahan yang saling bertentangan di dalam diri manusia-manusia yang bertatap dengan buas melalui kerlipan bintang-bintang di langit, siap untuk saling bunuh. Dari arah segerombolan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan raya, sekali-sekali terdenar gemuruh suara Ratib dan Allahu Akbar, yang semuanya berjumlah tidak kurang dari lima ratus orang. Sedangkan beberapa orang lagi yang sedang merayap dalam padi, tidak dapat dihitung. Tapi pasti meliputi ratuan orang pula.
J.Westennenk datang mendekati Sersan Booman yang sedang mengawasi kegelapan. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Sersan Boorman yang bertugas mengawasi wilayah timur, hampir bersamaan dengan J.Westennenk mencabut pistol, ketika gelombang serbuan pertama begitu saja sudah muncul di depanya. Orang-orang itu bagai datang dari balik kegelapan disertai pekik kalimat-kalimat Tuhan yang mendirikan bulu roma. Di tangan mereka berkilauan berbagai macam senjata, mulai dari pisau, parang, lembing dan beberapa jenis senjata lainya. Dalam beberapa jam saja, terjadilah perang basosoh yang dahsyat, karena serdadu Belanda banyak yang tidak sempat menembakkan senjatanya.
Gemercing senjata, letusan senapan, jerit kesakitan dan rintih kematian memenuhi udara malam maka dalam sekejap Kampuang Tangah yang tenang itu berubah menjadi medan bangkai dan telaga darah.

Dalam laporan resmi J. Westennenk tersebut, juga dijelaskan, telah terjadi lebih dari delapan kali serangan serupa dalam waktu hampir berturut-turut dan semakin mengerikan. Ratusan orang penyerbu terus saja maju sekalipun dihujani tembakan. Kegelapan malam menyebabkan sulit bagi serdadu Belanda membidik sasaran secara tepat, sehingga sebahagian besar dari mereka yang berhasil tiba di tempat para serdadu bertahan, langsung membabat lawan bagai kesetanan. Satu demi satu prajurit Belanda tewas dengan tubuh penuh luka-luka mengerikan. Sersan Boorman tak henti-hentinya berteriak membangkitkan semangat anak buahnya yang semakin kendor. Di antara kepulan asap mesiu, Dr.Justesen kelihatan merunduk-runduk ke arah beberapa orang serdadu yang merintih akibat luka-luka yang di deritanya. Tetapi dari arah tidak kurang dari 50 meter, lagi-lagi puluhan penyerbu sudah datang pula. Kelihatan dua orang serdadu mengacungkan senjata dalam jarak beberapa langkah menyongsong mereka, namun sebelum sempat melepaskan tembakan kedua serdadu itu terjungkal di tengah kilauan senjata tajam. Perwira kesehatan Dr.Justesen dan sersan Boorman secara bersama-sama berusaha keras mencegah serdadu yang sudah mulai mundur, ketika menyaksikan seseorang penyerang membelah kepala seorang sersan. Sementara itu dari arah lain, beberapa orang penyerbu berhasil memasuki sekelompok tentara. Terdengar beberapa kali tembakan disusul jatuhnya empat orang di antara mereka. Tetapi belasan orang yang luput, langsung menghabiskan para serdadu Belanda tanpa ampun.

Demikian pada pertempuran yang berlangsung sampai pukul 2.00 dini hari itu, bintang J Westennenk sebgai pelaksana kolonial terlindung oleh bintang M. Saleh Dt. Rajo Penghulu sebagai pemuka perang. Pasukan rakyat memperoleh kemenangan gemilang lantaran semangat dan koordinasi yang tinggi. Tentara Belanda berhaisl dibuat kucar kacir. Tetapi J.Westennek sempat meloloskan diri dan minta bantuan ke Bukittinggi. Pasukan inilah nantinya yang telah menimbulkan malapetaka terhadap pasukan rakyat, karena bertepatan fajar menyingsing mereka datang dalam jumlah yang sangat besar, sehingga babak kedua perang basosoh, segera meledak kembali. Akan tetapi lantaran pasukan itu terlalu banyak dan segar-segar, dilengkapi pula dengn senjata modern, akhirnya pasukan rakyat terpaksa mengundurkan diri. Dan bersamaan itu, berhentilah kegaduhan suasana perang bagai disapu dari bumi Kampung Tangah. Yang tinggal hanyalah keheningan yang ditingkah erangan suara manusia yang luka-luka di tengah desau angin dedaunan. Nun di ufuk timur, warna keemasan kelihatan menebari permukaan langit dan burung-burungpun mulai berkicau seperti hari-hari sebelumnya. Maka tercatatlah pagi itu sebagi sejarah berkabut di hati setiap bangsa Indonesia di dalam menentang kolonis Belanda.
M.Saleh Dt. Rajo Penghulu bersama lebih 70 angot pasukan rakyat, syahid sebagai pahlawan bangsa, di antaranya terdapat dua orang srikandi yaitu Siti Anisah dan siti Asiah. Selain itu yang mengalami cacat, tercatat 20 orang.

Siti Asiah

Mengenai tragedi gugurnya Siti Asiah, salah seorang penyerbu yang luput dari maut, bernama Makih Mangiang Suku Guci berasal dari dusun Solok Kamang, menceritakan kepada salah seorang anaknya yang hingga saat ini masih hidup, bahwa: Dia melihat Siti Asiah yang berada tidak jauh dari tempatnya berada, sedang istirahat setelah beberapa kali bertempur, tiba-tiba melompat bangunan, berlari dengan rambut tergerai menyerbu ke arah tiga orang serdadu Belanda yang berdiri di kegelapan. Dt. Rajo Penghulu berteriak memperingatkan, tapi wanita itu tidak peduli terantuk pada sebuah benggolan tanah pematang dan terjatuh masuk selokan. Dia berusaha bangun secepatnya tapi tahu-tahu dua orang serdadu Belanda sudah berdiri mengacungkan laras senjata ke arahnya. Dalam keadaan terlentang tak berdaya, Siti Asiah hanya mengelijang sebentar ketika salah seorang dari kedua serdadu itu memasukkan moncong senapan kemulutnya dan menarik pelatuknya. Terdengar sebuah ledakan dan terkaparlah srikandi perkasa Siti Asiah dalam sebuah wajah yang penuh keringat, namun diliputi ketenangan.

Dt.Rajo Penghulu yang sedang bertempur menghadapi dua orang Belanda, lantas berpaling dan berbalik kearah istrinya. Namun sebelum berhasil ia mencapai tubuh istrinya itu, kembali terdengar sebuah letusan senjata api. Dt. Rajo Penghulu terhuyyung-huyung beberapa langkah kemudian jatuh tepat disamping tubuh Siti Asiah dan gugur sebagai pahlawan bangsa. Akan halnya Haji Abdul Manan, menurut buku Pemberontakan Pajak karangan Rusli Amran, beliau ditangkap Belanda keesokan harinya (16 Juni 1908) dan langsung ditembak mati dikampugn kelahiran beliau, Bansa. Jadi ibandingkan dengan 425 orang tentara Belanda yang mati maka kekalahan tragis dalam memperjuangkan hak dari kekuasaan penjajah ini dapat dianggap sebagai bukti bahwa dinamika revolusi telah menumbuh suburkan kodrat yang pantas dinilai ole sejarah dunia.

Dipandang secara lahir, meandang dalam satu pertempuran tidak ada batas bunuh membunuh, tapi apa yang telah ditunjukkan rakyat Kamang yang rela memilih mati daripada dijajah, jelas ikut sebagai pendorong dlaam meneruskan cita-cita perjuangan yang belum selesai. Namun dipandang dari sudut batin, kehilangan pemimpin-pemimpin yang punya semangat revolusi seperti Dt.Rajo Penghulu itu adalah pukulan yang sedikit banyaknya mempengaruhi warna perjuangan dimasa yang akan datang, karena kemauan yang mempunyai dasar yang kokoh, tidak akan pernah berhenti sebelum seluruhnya berhasl dicapai. Hal yang terakhir akan terlihat nyata dalam jalannya perjuangan rakyat Kamang dibelakang peristiwa bersejarah ini.

Akhirnya semua jenazah pahlawan perang Kamang, kembali dibawah ke Kamang (Kamang Hilir sekarang) dan di makamkan di komplek Masjid Taluak, sementra beberapa orang pejuang lianya Kari Mudo, Garang Dt. Palidih, Dt. Siri Marajo, Pedeka Sumin, Dt. Manguhudun, Haji M. Amin dan lain-lain, ditangkap Belanda pada keesokan harinya. Bagi mereka yang tidak mau mengakui atau bersumpah stia kepada bendera Belanda seger dikirim ke berabgai penjara seperti penjara Padang Batavia, Magelang, Makasar, dan sebagainya. Sebagaimana diketahui, Dt.Siri Marajo akhirnya meninggal dunia di penjara glodok Batavia, sedangkan Pendeka Sumin dibuang ke Makasar dan meninggal disana. Begitu pula A. Walid Kari Mudo, setelah menjalani masa pembangunan selama 27 tahun di Makasar, dipindahkan ke Jakarta sampai beliau meninggal dunia disana pada tahun 1952. Mengenai jumlah korban Perang Kamang yang meninggal di kedua belah pihak, ternyata kemudian banyak terdapat spekulasi angka, baik yang bersal dari statement Balanda sendiri, atau yang di muat berbagai koran setempat waktu itu seperti de Padanger, maupun berdasarkan taksiran-taksiran tidak resmi. Tetapi satu hal yang perlu dikethaui adalah bahwa Belanda dalam mengumumkan angka-angka itu sengja mengecilkan dengan alasan politik.

Sedangkan jumlah yang gugur dipihak pasukan rakyat semua tercatat tujuh puluh orang (70 orang) lebih, dapat sma-sama dibuktikan di Makam Perang Kamang 1908 Taluak, yang sampai sekarang masih dirawat baik. Begitu juga mengenai 425 orng tentara Belanda yang mati, tercatat berdasarkan keterangan beberapa orang saksi mata yang ikut terjun dalam pertempuran itu (yang pada waktu penyusunan buku ini masih hidup) sesuai jumlah pedati dan ukuran tubuh manusia yang dapat dimuat didalamnya. Waktu itu pihak Belanda membawa mayat-mayat pasukanya keesokan hari dengan semacam pedati, gerobak sapi yang biasa digunakan para petani untuk membawa hasil panen.

Dalam satu revolusi memang ada yang perlu diumumkan, adapula yang hanya dibisikkan antara awak sama awak saja dan adapula yang hanya perlu disimpan sebagai rahasia. Namun dari kesimpulan uraian di atas, dapat dikatkan bahwa apa yang terjadi pada malam 15 Juni 1908 itu, adalah merupakan mata rantai usaha bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan yang perlu diumumkan. Dari sikap rakyatnya memadu alam yang kontradiktif dan sebagai dreamers akan adanya yang bebas, merdeka, secara berani yang nyaris tanpa perhitungan menentang kekuatan negara maju, dapatlah di yakini bahwa rakyat Kamang punya semangat revolusioner dan selalu siap menghadapi sebarang halangan.

Kamang Dalam Pertumbuhan dan
Perjuangan Menentang Kolonialis
Karangan: A.utan M. Indo